Satu-satunya ruangan favorit adik tiriku justru ruang paling belakang di dekat kamar mandi yang tidak lain adalah kamar tidurku. Ruang dengan jendela yang terhubung ke kebun samping di belakang garasi. Aku memperlakukan kamar itu seperti sebuah kamar hotel, sprei rapi tanpa lipatan, bantal putih terbaik da dindig dengan hiasan kaligrafi buatanku sendiri. Dan sebuah meja belajar pindahan dari kamar lama, yang aku cat ulang menjadi meja belajar baru.
Satu-satunya benda yang paling aku sembunyikan adalah koper kotak berwarna oranye yang berisi surat-surat rahasia ibuku dan selalu aku kunci dengan nomor kombinasi.
Aku baru pulang kuliah ketika aku merasa ada yang aneh di rumah, Semua orang diam pada saat makan malam, dan sepanjang malam tidak ada satupun yang berbicara atau menegur. Termasuk adik perempuanku yang biasanya paling cerewet, aku tidak melihat ibu tiriku di rumah.
Bapak tiba-tiba memanggilku, katanya Ibu pergi ke rumah Bu Karmo, ia tidak mau pulang karena merasa bersalah. Awalnya tidak dijelaskan, tapi setelah aku desak akhirnya aku tahu jika koper oranye telah terbuka dan kunci kombinasi entah bagaimana juga terbongkar.
Semua surat-surat yang ditemukan adik perempuanku ditunjukkan kepada ibu tiriku karena ia kaget menemukan surat dengan hampir semua pesannya, segera dimusnahkan setelah dibaca.
Ketika Ibu tiriku membacanya ia merasa telah merusak hubungan ibu dan anak yang tidak semestinya harus mengalami pendeitaan begitu rupa.
***
Aku tidak langsung percaya ketika Bapak mengatakan koper itu sudah terbuka. Koper oranye itu selama bertahun-tahun menjadi satu-satunya benda yang tidak pernah kubiarkan disentuh siapa pun. Bahkan ketika aku pindah kamar, koper itu selalu ikut pindah. Ketika aku pergi kuliah, ia tetap berada di tempat yang paling sulit ditemukan. Aku pernah membayangkan jika suatu hari rumah terbakar, mungkin aku akan menyelamatkan koper itu lebih dulu sebelum menyelamatkan barang-barangku sendiri.
Bukan karena isinya berharga, tapi akrena berisi surat-surat ibu, dengan pesan rahasia disetiap akhir surat. Surat yang seharusnya menjadi percakapan antara seorang ibu dan anaknya, tetapi kemudian berubah menjadi sesuatu yang lebih mirip senjata karena kubawa ke mana-mana dengan perasaan takut.
Aku masuk ke kamar dan mendapati koper itu memang sudah tidak berada di tempat semula. Kuncinya sudah terbuka , begitu juga kode nomor kombinasinya. Posisinya berubah, dan aku tahu ada seseorang telah membukanya. Tanganku gemetar ketika membuka tutupnya, tidak ada satu pun surat di dalamnya.
Aku duduk di lantai, untuk beberapa saat aku hanya memandangi ruang kosong itu tanpa mampu berpikir, karena yang paling menyakitkan bukan karena surat-surat itu hilang. Aku tahu persis siapa yang telah membacanya, adikku dan setelah itu, ibu tiriku.
Aku kembali ke ruang tamu, bapak masih duduk disana.
"Kenapa surat-surat itu dibakar?" Bapak tidak menjawab.
Aku menatapnya.
"Kenapa?" Ia menghela napas panjang.
"Ibumu tirimu yang membakarnya."