Aku memutuskan untuk memintanya pulang, aku memaafkan kesalahannya kalau ia menganggap telah memutus hubungana seorang ibu dan anak. Aku katakan padanya jika aku menerimanya sebagai ibu tiriku tanpa syarat. Adik-adikku tidak ada yang protes, karena setelah kelulusan dari SMA mereka memutuskan untuk kuliah di luar dan komunkasi langsung dengan ibu tiri putus total, kecuali melalui surat basa-basi yang sesekali mereka kirim dalam bentuk kartu ucapan selamat hari raya.
Aku mencoba berdamai untuk sesuatu yang sangat menyakitkan, karena toh selama ini aku lebih banyak terlibat dengan ibu tiriku karena aku satu-satunya yang tinggal dan memilih mengalah untuk tidak kuliah di luar agar tetap ada yang tinggal membantu adik perempuanku di rumah.
Aku juga sedang membangun hubungan dengan seseorang dan berharap mendapat dukungan meskipun hanya sebagai orang tua sambung. Aku tahu banyak orang mengatakan tidak akan pernah sama antara ibu kandungmu dan ibu tirimu. Tapi untuk saat ini dia yang paling dekat dan ada di didekatku. Sudah seharusnya keberadaanku menjadi tanggungjawabnya.
Aku memutuskan untuk memintanya pulang, bukan karena aku sudah melupakan semua yang pernah terjadi. Bukan pula karena surat-surat ibu yang dibakar itu tidak berarti apa-apa bagiku. Aku hanya merasa sudah terlalu lama hidup dengan kemarahan yang sebenarnya tidak lagi tahu harus diarahkan kepada siapa.
Ketika akhirnya aku datang ke rumah Bu Karmo, ibu tiriku sedang duduk di teras. Ia tampak lebih tua daripada yang kuingat beberapa hari sebelumnya. Mungkin hanya karena matanya sembap, atau karena aku melihatnya bukan sebagai perempuan yang merebut ayahku, melainkan sebagai seseorang yang juga telah menjalani hidupnya dengan rasa bersalah.
Ia tidak langsung menatapku.
"Aku mau Ibu pulang." Ia terdiam.
Aku sengaja menggunakan kata itu.
Ibu, bukan karena tiba-tiba aku menganggapnya sama dengan ibu kandungku, tetapi karena aku sudah lelah mencari sebutan yang bisa menjelaskan hubungan kami. Ia menatapku dengan mata yang masih basah.
"Apa kamu tidak marah?"