Rumah Ibu 3.915 Mil Jauhnya

Hans Wysiwyg
Chapter #19

Pernikahan yang Tidak Istimewa

Siang itu aku mampir ke rumah sakit karena calon mertuaku sedang dirawat untuk menjalani operasi mata.

“Aku harus ke rumah sakit sekarang,” aku sedikit mendesak calon pacarku karena tiba-tiba terpikir sesuatu dan aku merasa tidak bisa menundanya. Ia cuma menjawab singkat karena aku bilang kita bisa bicara nanti saja di sana. Aku bergegas, aku pikir bisa memanfaatkan situasi itu untuk meminta izin kepada ibunya rencanaku melamar putrinya. Aku tidak ingat persis apakah semuanya muncul tiba-tiba atau setelah obrolanku dengan pacarku. Seolah saat itu tidak ada pilihan. Kami sudah terlalu banyak bercerita soal rencana menikah itu, jadi tidak ada salahnya aku membuat terobosan.

“Ibu tidak bisa memutuskan sendiri, tapi kalau melihat kalian berdua begitu bahagia, Ibu tidak bisa menampiknya. Semua terserah kalian memutuskan. Tapi jangan lupa meminta izin ayahnya.”

Ibunya menyetujui dan sekaligus memintaku dengan tulus untuk menjaga putrinya. Aku meminta izin kepada pacarku dan bergegas lari pulang.

“Aku segera kembali dengan sebuah kabar baik!”

Pacarku bingung dan seperti biasa tersenyum manis, tapi aku tahu ia penasaran dan masih menebak-nebak apa maksud kata-kataku.

***

Butuh waktu setidaknya tiga puluh menit karena rumah sakit itu berada di tengah kota, sementara rumah yang aku tuju berada di pinggiran. Aku harus mengitari jalan lingkar untuk sampai di sebuah perumahan universitas yang berada di dalam kawasan kampus. Belum lagi aku harus menghindari polisi yang bisa saja menarik paksa kendaraan di jalanan tanpa plat hidup.

Aku hanya berpikir, jika bisa sampai secepatnya ke rumah, aku bisa menyampaikan kabar baik ini kepada orang tuaku. Sepanjang jalan aku memikirkan bagaimana reaksi mereka.

Terus terang, semuanya tanpa persiapan sama sekali. Karena sebuah keberuntungan di rumah sakit itu, aku nekat melamarnya. Aku sudah bersiap dengan semua risikonya karena kupikir paling tidak ibuku akan panas dingin, tetapi ia tidak akan kuasa menolak. Mereka tahu aku telah berhubungan lama selama masa kuliah yang sangat panjang. Jadi aku pikir mereka tahu siapa gadis pilihanku dan tidak ada alasan untuk menanyakan kepastian, apalagi menolaknya.

Kedua orang tua kami tidak hanya seprofesi, tetapi juga bersahabat baik sejak lama. Bahkan aku baru menyadari jika aku mengenal pacarku itu ketika ia masih bersekolah dasar tahun ketiga.

Aku masih bisa mengingat siluet wajahnya. Cantiknya bahkan kini semakin bertambah dengan mata tersenyum. Aku selalu menyebutnya begitu karena setiap kali melihat matanya, aku selalu melihat kebaikan hatinya yang luar biasa. Mata itu selalu membuatku merasa jatuh cinta.

Ia gadis terbaik menurutku. Ia begitu mencintai anak-anak, sabar berlama-lama bermain dengan mereka, menyisiri rambutnya, mengepangnya. Wajah yang selalu tersenyum tulus dengan suaranya yang lembut.

Sepanjang jalan aku melamun. Aku membayangkan ia akan menjadi ibu dari anak-anakku. Mungkin beberapa anak, pikirku. Mungkin juga perempuan dan laki-laki. Dan sesekali kuketuk helm di kepalaku untuk menepis pikiran tidak jelas tentang dia.

Aku memacu sepeda motorku semakin cepat dengan hati nyaris meledak. Langit kelabu karena mendung mulai berubah menjadi biru. Angin yang berembus sedikit kencang dan lembap terasa semilir. Aku tidak ingat apakah aku bersenandung, tetapi deretan rumah-rumah itu seperti kelebat yang hilang terbang, dan bayangan orang yang lalu-lalang menjadi siluet, seperti bayangan dalam lamunanku.

Tepat setelah tikungan kedua di kompleks perumahan para dosen itu, aku harus melewati rumah gadisku. Aku biasanya memperlambat laju kendaraanku hanya untuk bisa melihat halaman rumah itu. Rumah dengan bayangan yang paling aku tunggu jika melewatinya. Bahkan ketika malam sunyi, melihat temaram berwarna kuning dari lampu kamarnya bisa membuatku tidak bisa tidur semalaman.

Darahku tiba-tiba terkesiap ketika tepat di teras depan rumahnya, ayahnya tengah bersiap untuk berangkat ke kampus. Ia sedang memakai sepatunya sebelum bergegas pergi untuk masuk mengajar jam kedua karena, saat itu, seingatku kurang lebih pukul sepuluh pagi.

Aku segera berhenti. Bahkan tak sempat berbalik kendaraan dan sengaja aku letakkan di pinggiran jalan, agak jauh dari halaman rumahnya, seolah tidak mau membuang kesempatan dan waktu yang tidak akan terulang.

Aku menahan napas dan turun menemuinya. Tanpa basa-basi, aku meminta sedikit waktunya.

“Penting sekali, ya, sampai harus bicara serius di dalam?” katanya sedikit bingung, tetapi aku seperti mendesaknya.

Ketika akhirnya ia melepas sepatunya, kami masuk ke ruang tamu.

“Saya baru saja pulang dari rumah sakit menjenguk Ibu, dan sebenarnya saya sekaligus sudah meminta izin kepada beliau jika saya melamar putri Bapak.”

Kata-kata itu meluncur deras tanpa tekanan, dalam sekali tarikan napas.

Tentu saja reaksi pertama ayahnya adalah terperanjat. Wajahnya untuk sementara seperti membeku dengan tatapan menghunjam tajam. Tak lama kemudian, ketika ia merasa tersadar, ia langsung menghujaniku dengan pertanyaan tentang seberapa seriusnya aku soal itu.

Saat itu aku bilang jika aku telah bekerja sebagai seorang redaktur koran lokal. Kelihatannya beliau tidak mempersoalkan itu, entah karena terburu waktu atau karena pernyataannya yang kedua.

“Jika Ibu dan putriku telah setuju, maka aku ikut saja. Semoga semuanya lancar dan baik-baik saja.” Begitu kata penutupnya.

Sebuah kejutan yang tidak terduga. Aku pun tidak berlama-lama, segera meminta izin, mencium tangan calon mertuaku untuk pertama kalinya, lalu setengah berlari bergegas pulang.

Rumahku cuma berbatas blok berbeda di perumahan yang sama. Tetapi begitu ayahnya pergi menjauh, aku langsung berbalik menuju rumah sakit, urung untuk pulang. Aku tidak sabar menemuinya untuk menyampaikan kabar luar biasa yang aku janjikan sebelumnya.

***

Lihat selengkapnya