Setelah segala sesuatunya dipersiapkan selama sebulan, kami hanya tinggal menunggu hari akad untuk mengikat janji. Namun, sebuah musibah datang sebelum hari yang kami tunggu itu tiba. Nenek dari pihak Bapak berpulang.
Bapak baru saja menjenguknya sebulan sebelumnya. Ketika hendak kembali, beliau sempat berpesan sesuatu yang membuat Bapak bahkan nyaris membatalkan keberangkatannya ke bandara.
“Kalau terjadi apa-apa setelah ini, tidak usah pulang lagi.”
Kalimat itu terdengar seperti pesan biasa ketika seorang ibu melepas anaknya pergi. Namun, sebulan kemudian, kami baru menyadari bahwa mungkin itu adalah firasat terakhirnya. Nenek pergi, ketika bapak baru saja kembali ke rumah. Tapi kali harus kembali, bukan untuk menjenguk, melainkan untuk memakamkan ibunya.
Di rumah, segala persiapan menuju hari walimah mendadak berhenti. Undangan yang sudah disiapkan tidak lagi menjadi sesuatu yang ingin kami bicarakan. Pakaian yang sudah dipilih disimpan kembali. Rencana pesta yang selama sebulan terakhir memenuhi percakapan kami berganti dengan kedatangan tamu-tamu yang datang membawa ucapan duka.
Rumah yang seharusnya dipenuhi kegembiraan berubah menjadi tempat orang-orang duduk dalam diam, kami menunda hari bahagia itu.
Anehnya, penundaan tersebut justru memberi kami waktu untuk membicarakan kembali banyak hal yang sebelumnya terasa terburu-buru, termasuk tentang ibu.