Rumah Ibu 3.915 Mil Jauhnya

Hans Wysiwyg
Chapter #17

Hadirnya Orang Ketiga

Seseorang datang yang kukenal sebagai teman dari adik calon istriku. Ia berbasa-basi menanyakan kabar, termasuk tentang kuliahku yang baru saja usai. Mungkin sudah waktunya memikirkan dan memastikan hari H, katanya sambil menggodaku.

Awalnya aku menganggapnya sekadar bercanda. Namun, entah mengapa, ada firasat yang membuatku berpikir bahwa kedatangannya bukan kebetulan. Seolah ada seseorang yang mengutusnya, dan aku tahu siapa.

Sore harinya aku datang ke rumah calon istriku. Kami mengobrol seperti biasa, sampai akhirnya ia menanyakan sesuatu yang membuat percakapan kami berubah arah.

“Menurutmu, kalau ada seseorang memintaku, apa kamu bersedia melepasku?” Aku terdiam cukup lama.

Aku tidak ingin memaksanya, bagiku, seseorang tidak bisa dimiliki hanya karena ia telah menjadi kekasih kita. Jika suatu hari hatinya berpindah, aku tidak ingin mempertahankannya dengan paksaan. Maka aku menjawab,

“Kalau menurutmu kamu suka dan dia lebih baik, mungkin aku akan mempertimbangkan untuk menyerahkan keputusan itu kepadamu.”

Di luar dugaanku, ia justru marah. Katanya, jika aku benar-benar serius, seharusnya aku marah ketika ada seseorang yang ingin merebutnya. Seharusnya aku merasa takut kehilangan, bukan malah menyerahkan keputusan kepadanya.

Aku baru menyadari bahwa niat baik di dalam hati bisa diterima dengan cara yang sama sekali berbeda oleh orang yang kita cintai. Bagiku, mencintai berarti memberi kebebasan, tapi baginya, jawaban itu terdengar seperti aku tidak cukup mencintainya untuk mempertahankannya.

Aku tidak mengorek lebih jauh siapa seseorang yang dimaksudnya. Aku juga tidak bertanya apakah ia sedang dekat dengan orang lain, atau apakah ada seseorang yang diam-diam mendekatinya tanpa sepengetahuanku. Aku memilih diam.

***

Malam Minggu selepas Isya, aku datang lagi ke rumahnya. Pembicaraan kami sebelumnya masih menyisakan kegamangan. Kami rupanya memiliki pemahaman yang berbeda tentang perasaan dan cara mempertahankan seseorang, aku meminta maaf.

Setelah itu kami mencoba membicarakan hal-hal lain, termasuk pekerjaan dan rencana-rencana setelah kuliahku selesai, semuanya kembali terasa normal sampai seseorang mengetuk pintu. Seorang laki-laki datang berkunjung. Calon istriku langsung pucat ketika mengetahui siapa yang berdiri di depan pintu.

Lihat selengkapnya