Rumah Ibu 3.915 Mil Jauhnya

Hans Wysiwyg
Chapter #20

Mimpi Sebuah Rumah

Malam itu kami pulang hampir tanpa banyak bicara. Aku pikir tidak perlu mendebat keputusannya untuk pulang karena ia merasa belum bisa diterima oleh ibu tiriku. Ia juga kuatir, dengan pertanyaan-pertanyaan dari ibunya ketika kami sampai di rumah nantinya.

Ketika kami hampir sampai di rumahnya, ia tiba-tiba menyandarkan kepalanya lebih kuat ke punggungku, aku tahu ia ingin mengatakan sesuatu, tetapi ia menahannya sampai aku menghentikan kendaraan di depan rumah.

Ia turun perlahan, aku mematikan mesin. Untuk beberapa saat kami hanya berdiri di pinggir jalan seperti orang asing yang bertamu dan ragu-ragu untuk masuk. Lampu rumahnya menyala temaram, dari dalam terdengar suara keluarganya, samar-samar seperti suara televisi dan percakapan orang-orang yang tidak terlalu memperhatikan kedatangan kami.

Ia kemudian mengatakan bahwa ia tidak kecewa kepadaku, aku hanya mengangguk karena aku memahami perasaannya. Tetapi ia juga tahu bahwa aku kecewa, aku tidak bisa menyangkalnya karena keputusan permintaan pulangnya itu akan menjadi tanda tanya besar bagi keluarganya, karena pengantin biasanya menginap di rumah mertuanya selama beberapa hari.

Permintaannya sebenarnya sederhana, namun sebenarnya jauh lebih sulit dijelaskan, ia ingin keluargaku menyambutnya sebagaimana aku disambut dan diterima dikeluarganya.

Namun malam itu aku menyadari bahwa keinginan tidak selalu sama dengan kenyataan, ia kemudian mengatakan bahwa ia tidak membutuhkan gelang besar ataupun kamar yang bagus. Ia juga tidak pernah meminta rumah seperti yang sering ia lihat dalam cerita orang lain. Baginya, semua benda itu hanya bagian kecil dari sesuatu yang jauh lebih penting.

Ia ingin tahu apakah ketika menjadi istriku nanti, ia benar-benar memiliki tempat di keluargaku, pertanyaan itu membuatku terdiam. Aku tidak langsung menjawab karena mendadak teringat masa kecilku sendiri. Aku pernah berada di posisi yang sama, menjadi seseorang yang tidak tahu apakah masih memiliki tempat di dalam sebuah rumah. Bedanya, waktu itu aku seorang anak, sehingga tidak punya pilihan. Hanya menerima keputusan orang dewasa.

Lihat selengkapnya