Tiga bulan pertama pernikahan kami berjalan begitu tenang hingga aku sering lupa bahwa dulu aku pernah takut menikah.
Keputusan kami membuat rumah buyar dari rencana semula. Bencana tsunami datang, menghancurkan semua termasuk mobil kecil yang kami akan menjadi investasi pertama yang kami beli sebelum memutuskan membangun rumah. Bencana yang memaksa kepindahan kami dari rumah dinas malah beruntun. Belum usai rehab bencana, bantuan dari Uni Emirat Arab memaksa kami harus pindah lebih cepat dari rencana awal.
Beruntung keputusan membeli tanah lebih dulu kami lakukan, meskipun surat-suratnya belum tuntas arena konflik agraria dua kampung baru tempat kami domisili setelah kepindahan.
Pilihannya menjadi rumah tumbuh. Rumah yang dibangun perlahan, tidak langsung tuntas. Sebuah ruang tamu dengan void tinggi dan sebuah garasi merasangkap kamar tidur dengan sebuah mezanin di atasnya sebagai tempat kerja.
Rumah kecil yang kami tempati belum sepenuhnya selesai. Cat di dapur masih menyisakan bau menyengat, tirai ruang tamu baru dipasang seminggu setelah kami pindah, dan lemari buku yang selalu kuimpikan akhirnya berdiri di sudut ruang kerja meski masih setengah kosong. Kami membeli perabot sedikit demi sedikit, menyesuaikan dengan gaji yang kami terima setiap akhir bulan. Tidak ada yang mewah, tetapi setiap benda yang masuk ke rumah itu terasa seperti hasil perjuangan bersama.
***
Istriku mulai bekerja di sebuah lembaga pendidikan. Pekerjaannya tidak jauh dari dunia anak-anak, sesuatu yang memang sejak dulu ia cintai. Setiap sore ia sering membawa pulang cerita tentang murid-murid yang lucu, tentang anak kecil yang menangis karena kehilangan pensil, atau tentang seorang bocah yang diam-diam menyelipkan bunga kertas ke dalam tasnya.
Aku selalu menikmati mendengarnya bercerita, barangkali karena aku merasa sedang melihat perempuan yang sama seperti ketika pertama kali jatuh cinta, sabar, lembut, dan selalu mampu menemukan kebahagiaan dalam hal-hal sederhana.
Kami hampir tidak pernah bertengkar, kalau pun berbeda pendapat, biasanya selesai sebelum tidur. Kami punya kesepakatan yang tidak pernah diucapkan, jangan membawa kemarahan sampai esok pagi.
Aku mengira semua orang menjalani pernikahan seperti ini, ternyata aku keliru, yang tidak kusadari, ada sesuatu di dalam diriku yang mulai tumbuh pelan-pelan. Ia tidak datang sebagai kemarahan, bukan pula sebagai rasa cemburu. Ia datang sebagai kecemasan yang selalu menyamar menjadi perhatian. Aku mulai bertanya ketika ia hendak berangkat.
“Pulang jam berapa?” Pertanyaan itu terdengar wajar.
Ia menjawab sambil mengenakan jilbabnya, lalu tersenyum dan berpamitan. Aku tidak pernah menganggapnya sebagai masalah. Tapi beberapa hari kemudian pertanyaannya berubah.
“Rapat sama siapa?”
Lalu menjadi, “Hari ini ada kegiatan di luar kantor?”
Kemudian tanpa sadar aku mulai menghafal nama teman-temannya, siapa yang biasa mengantar pulang, siapa yang sering lembur, siapa kepala bagian yang sering mengadakan rapat mendadak, semua kulakukan tanpa niat mengawasinya, tapi menjadi terasa seperti rasa cemburu yang tidak beralasan, karena itu artinya aku seperti tidak mempercayainya.