Ketakutan-ketakutan ketika kami membicarakan karma selalu, bisa melukai hati. Meskipun kami tertawa-tawa membicarakannya. Keluarga yang pernah runtuh, bisa mensugesti anak-anaknya, menjadi lebih rapuh atau justru menjadi lebih kuat melawan nasib.
Ketika kami bertengkar, kami pernah menyinggung soal itu, karena menurutnya bisa jadi anak-anak seperti buah tidak akan jatuh jauh dari pohon induknya. Artinya didalam hatinya ia menyimpan kekuatiran kecil, jika aku mungkin saja bisa melakukan hal yang sama, meninggalkannya karena suatu alasan.
Ia akan mengungkit perlakuan-perlakuan buruk yang aku terima selama tinggal dengan ibu tiriku, dan ia kuatir perasaan terluka itu akan terus terbawa, ke dalam pernikahan dan ketika ia memikirkan istri dan anak-anaknya. Apalagi jika salah satu sikapmu bertendensi negatif, ia akan menghubungkannya dengan kemungkinan luka itu. Aku tidak pernah membantahnya, aku justru memikirkannya dengan hati-hati karena ia mulai memikirkan kemungkinan itu sebagai sesuatu yang buruk.
***
Hubungan kami dengan ibu tiriku tidak sepenuhnya baik. Aku merasa semua serba basa-basi, karena istriku selalu memikirkan masa lalu yang buruk, dan diam-diam ia mungkin menyimpan kekecewaan yang tidak pernah diungkapkannya. Jadi kami jarang bertemu, meski sekedar makan malam bersama, kecuali hanya ketika sakit atau hari raya.
Istriku bersimpati kepada ibuku yang jauh di Mekkah, tinggal sendirian tanpa siapapun disana.
Aku tak pernah menceritakan sebuah rahasia kepadanya. Jika ia selama bertahun-tahun hidup sendiri, pada akhirnya ketika Pemerintah Arab Saudi mengharuskan pemukim memiliki status yang lebih baik, ia harus memiliki keluarga yang utuh. Demi menyelamatkan marwah itu, ibu akhirnya memutuskan menikah dengan seorang pemukim dari daerahanya. Keputusannya itu tidak pernah dibicarakan denganku, aku juga tidak tahu persis apakah adik-adik mengetahui sejak awal rencananya.