Aku pernah berpikir bahwa setelah ibu dan ibu tiriku bertemu di Mekkah, sebagian besar persoalan masa lalu akan selesai dengan sendirinya.
Pertemuan itu terjadi pada sebuah musim haji, jauh setelah semuanya berlalu. Tidak ada yang merencanakannya. Tidak ada yang mengatur agar dua perempuan yang pernah berada di sisi berbeda dalam kehidupan bapak itu bertemu di tempat yang sama. Mereka hanya berada di sana, di tanah yang selama ini dianggap begitu suci oleh banyak orang, lalu takdir mempertemukan keduanya dalam keadaan yang tidak pernah kami bayangkan.
Aku tidak tahu persis apa yang mereka bicarakan karena tidak banyak yang diceritakan kepada kami, hanya saja yang kutahu, mereka saling menyapa, berbicara, kemudian berpisah tanpa pertengkaran. Bagi ibu, mungkin itu sudah cukup, begitu juga bagi ibu tiriku, mungkin juga begitu.
Aku sempat menganggap pertemuan itu sebagai semacam penutup yang selama ini kami tunggu. Seolah-olah setelah dua orang yang pernah terluka oleh cerita yang sama mampu berdiri berhadapan tanpa saling menyalahkan, anak-anak mereka juga akan menemukan jalan yang sama.
Ternyata aku terlalu sederhana memahami luka, luka tidak selalu sembuh hanya karena dua orang yang pernah menjadi sumber masalahnya sudah berdamai. Kadang-kadang luka justru tetap hidup di dalam diri orang lain yang menyaksikan semuanya, dan luka yang tidak pernah benar-benar diselesaikan akan mencari jalannya sendiri untuk muncul kembali.
Bahkan melalui sayatan kecil yang kemudian berubah menjadi luka besar, seperti ektika komunikasi tidak lagi intens, tidak ada lagi tanggapan dari kedua "kubu" saat salah satunya emrasa ingin dipedulikan. Perselisihan itu bisa lahir dari sebuah kalimat, meski awalnya tanpa tendensi, melalui perbandingan, atau bahkan ketika membicarakan kepemilikan benda duniawi.
Seperti ketika kita memohon bantuan, saran yang muncul memang sederhana, biarlah sementara menjadi mmiskin dulu, daripada memaksa menjadi kaya tapi menderita. Atau sekedar karena seorang anak mendapatkan pekerjaan yang lebih baik, foto keberhasilan anak-anaknya di dalam grup keluarga, atau hal-hal yang bagi orang lain mungkin biasa saja, bagi kami bisa menjadi pemicu.
Aku mulai melihat bahwa setelah ibu dan ibu tiriku berdamai, bukan berarti semua anak ikut berdamai. Justru di situlah persoalan baru muncul, ketika adik-adikku dari ibu masih membawa ingatan mereka sendiri. Mereka memiliki versi masa kecil yang berbeda denganku.