Situasi di Mekkah memburuk. Pengejaran terhadap pemukim ilegal digencarkan. Jika tidak dideportasi, pilihan lain adalah mendapat hukuman pidana. Dalam situasi tanpa suami, ibu merasa sendirian dan putus asa.
Menurut penuturan adik, ketika sampai di rumah kondisinya seperti depresi, mungkin karena benturan keinginannya bertahan di Mekkah untuk terus beribadah dengan kekhawatiran tinggal di rumahnya sendiri, yang mungkin ia tidak pernah tahu akan seperti apa kondisinya. Berbagai kemungkinan itu membuatnya sakit.
Tidak mungkin bagi ibu untuk kucing-kucingan jika itu diperlukan untuk menyelamatkan diri, paling tidak bisa membuatnya bertahan di Mekkah lebih lama lagi.
Kini, tinggal di rumah sendiri, ibu sudah lama mengubur cita-citanya untuk bisa mendirikan sebuah sekolah agama, mungkin pesantren kecil, agar ia bisa membagi banyak ilmunya. Karena dulu ia siswa sekolah pendidikan guru semacam PGA, yang membuatnya mencintai berbagi ilmu dengan orang lain.
Kepulangan ibu dari Mekkah tidak pernah benar-benar terasa seperti sebuah kepulangan. Bagi ibu, rumah yang ditinggalkannya bertahun-tahun lalu sudah berubah menjadi sesuatu yang asing, Mekkah telah menjadi bagian dari hidupnya terlalu lama.
Di sana ia menemukan sesuatu yang tidak pernah benar-benar ia dapatkan setelah keluarganya pecah, ketenangan. Ia bisa beribadah, belajar, bertemu orang-orang dengan tujuan yang sama, dan menghabiskan hari-harinya dalam lingkungan yang membuatnya merasa dekat dengan sesuatu yang selama ini dicarinya.
Karena itu, ketika keadaan di sana mulai memburuk, kepulangannya tidak pernah benar-benar menjadi pilihan yang ia inginkan, ia pulang karena keadaan memaksanya. Situasi terhadap para pemukim ilegal semakin ketat. Pemeriksaan digencarkan. Mereka yang tidak memiliki dokumen yang sesuai menghadapi risiko deportasi, bahkan kemungkinan berhadapan dengan proses hukum. Tidak ada lagi rasa aman seperti sebelumnya, bagi ibu, persoalannya jauh lebih rumit.
Ia harus meninggalkan kehidupan yang sudah bertahun-tahun dibangunnya, kembali kepada keluarga yang sudah berubah, dan mungkin yang paling berat, ia harus kembali kepada kenangan yang selama bertahun-tahun berusaha ia tinggalkan.