Tekanan ekonomi ikut memperkeruh perseteruan yang sebenarnya berakar dari pertikaian keluarga di masa lalu. Ketika orang tua berpisah dan masing-masing perempuan merasa memiliki hak atas suaminya, hubungan yang semula merupakan satu keluarga perlahan terpecah menjadi kelompok-kelompok kecil yang memiliki kepentingan masing-masing.
Dulu kami hanya mengenal satu kata, keluarga, setelah dewasa, kata itu terasa memiliki banyak cabang. Ada keluarga ibu, keluarga bapak. Ada anak-anak dari perkawinan yang pertama, ada anak-anak dari perkawinan berikutnya. Semuanya masih memiliki hubungan darah, tetapi tidak selalu memiliki perasaan sebagai satu keluarga.
Persoalan menjadi semakin rumit ketika keadaan ekonomi mulai sulit. Ketika seseorang membutuhkan bantuan, tetapi orang yang diharapkan membantu sedang memiliki persoalannya sendiri. Permintaan yang seharusnya sederhana kemudian terdengar seperti tuntutan. Penolakan yang sebenarnya karena ketidakmampuan dianggap sebagai bentuk ketidakpedulian.
Suatu malam, salah seorang saudaraku menelepon, aku tahu dari suaranya bahwa ia sedang membutuhkan sesuatu.
“Kalau bisa, bantu dulu. Nanti aku kembalikan.”
Aku berpikir keras, bukan karena tidak ingin membantu. Aku hanya sedang menghitung kemampuan sendiri.
“Berapa?” Ia menyebutkan jumlahnya.
Di ujung telepon terdengar helaan napas.
“Kalau memang tidak bisa, bilang saja.”