Ibuku memang idealis orangnya. Ia akan tetap mengusahakan sendiri segala sesuatunya meskipun itu sulit sekali. Sebagai anak perempuan tertua di keluarga pengusaha karet di kotanya mestinya ibu tidak akan pernah merasa kekurangan. Tapi suatu hari ia memutuskan pindah ke rumah hook di pertigaan jalan. Rumah paling hoki untuk bisnis, hanya sayangnya justru menjadi toko mati di tangan ibu yang hanya memanfaatkannya sebagai tempat tinggal.
Aku pernah bertanya, mengapa kita harus pindah, bukankah rumah nenek lebih baik dari rumah hook yang tidak memiliki apapun, bahkan ruamh itu tidak memiliki dapur sama sekali. Kecuali hanya sebuah tempat tidur besi peninggalan lama, sebuah meja besar dan papan tulis kapur besar.
Aku mulai belajar memahami ibuku, sejak kesalahannya memilih bapak, membiayainya kuliah dengan mengorbankan seluruh harga diri karena harus meminjam kepada ayahnya, tapi pada akhirnya laki-laki itu justru meninggalaknnya begitu saja. Ia merasa malu, sehingga memutuskan pindah dan tak lagi mau bergantung pada bantuan orang tuanya.
"Bu, kenapa kita harus tinggal di rumah ini, kenapa nggak di rumah kakek aja yang banyak makanannya," rengek adik bungsuku.
Aku lihat ibu hanya diam, tapi matanya berkaca-kaca.
Setiap pagi aku menemukan sebotol susu di dekat pintu depan yang kemudian dihangatkan dan dibagi kedalam tiga gelas besar, tapi ibu sama sekali tak pernah meminumnya.
"Untuk adikmu, siapa tahu ia masih mau."
Sebenarnya aku tak tahu persis apakah rumah di pojok yang kami tinggali itu milik kakek atau bukan. Seandainyapun itu bukan rumah kakek, berarti kami mungkin menyewanya. Tapi kenapa kami harus menyewanya jika rumah kakek begitu besar?.
"Kita tak bisa selamanya bergantung kepada orang lain, sekalipun itu kakekmu. Ibu sudah menikah dan keputusan itu artinya kita sudah mulai belajar bertanggungjawab," jelas ibuku, meskipun aku sebenarnya tak sepenuhnya paham dengan alasan itu.
Kami memang tinggal disana, tepatnya setelah ayah dan ibu menikah. Sebuah rumah hook kecil tepat di pojok jalan yang ramai, tapi sayangnya bangunan itu hanya dijadikan rumah tinggal.