Meskipun aku bekerja lebih banyak, tapi aku sama sekali tak pernah memegang uang di tangan. Jadi aku lebih suka memilih main yang tidak menggunakan uang.
Ketika salah seorang temanku orang tuanya memiliki toko memintaku bekerja disana. Aku sudah berkali-kali merengek kepada bapak, tapi jawabannya selalu sama.
"Memangnya kamu nggak punya orang tua sampai harus bekerja dan tinggal di ruko?"
"Aku ingin belajar kerja, biar punya uang sendiri," ujarku.
Tapi tetap saja izin itu tidak pernah keluar. Aku juga merasa heran, kenapa tidak sekalipun aku memberontak saja dengan nekat bekerja, secara sembunyi-sembunyi.
Aku tidak ingat dengan persis apakah aku selalu dibekali uang jajan. Sekali waktu aku sampai harus mengorek celengan recehan untuk mendapatkan uang. Selama sekolah pun aku selalu berjalan kaki. Bahkan sejak sekolah dasar, dengan memotong jalan di tengah kebun, melewati pinggiran tambak, hingga ke pinggiran sungai yang tidak jauh letaknya dari sekolah. Dari sana aku memotong jalan, melewati bioskop misbar, sambil sesekali mengintip dari lubang-lubang seng yang di koyak penonton gelap.