Mungkin aku bisa dianggap anak aneh, karena ketika orang-orang bertanya siapa ayahku, dan dia berada, aku sama sekali tidak pernah bisa menjawabnya. Ibu seingatku tidak pernah sekalipun bercerita tentang bapak. Sehingga aku tidak pernah mempertanyakaan keberadaannya. Aku tidak pernah tahu alasannya mengapa ibu tidak begitu suka menceritakan bapak. Jika benar seperti kata orang-orang jikabapakku hebat. Mengapa istrinya tidak bangga?
Hanya saja ibu sering mengajakku bersepeda ke daerah Karangsari ke tempat teman perempuanya. Disana ia bisa berlama-lamamengobrol, mungkin ketika itu ia sedang curhat tentang suaminya itu.
Aku merasa ketika itu ibu mulai mengalami siksa batin karena selain harus berjauhan dengan suaminya selama berbulan hingga setahun, tapi pada akhirnya justru ia yang ditinggalkan. Aku tidak ingat apakah mereka menikah muda sehingga secara mental mungkin belum siap menjadi orang tua, sehingga benturan kecil saja langsung menggoyahkannya.
Termasuk keputusannya untuk pindah ke rumah kosong di pertigaan mungkin juga karena tekanan itu.
Ibuku tidak bisa bisnis seperti nenek, karena rasa ibanya sering membuatnya rugi, ketika bertemu dengan pembeli yang tidak membawa uang diberinya gratis. Padahal itu satu-satunya peluang kami bisa menghasilkan uang. Seingatku setiap bulan ada kiriman weselpos, sejumlah kecil uang, yang hanya cukup untuk beberapa hari saja, karena ibuku boros jika untuk urusan anak-anaknya.
Setiap kali menarik wesel, ibu akan mengajakku ke pasar membeli ayam. Entah mengapa ayam selalu menjadi sesuatu yang istimewa baginya. Mungkin karena ia tahu kami jarang memakannya. Mungkin juga karena setiap kali uang kiriman itu datang, ia ingin memastikan anak-anaknya mendapatkan sesuatu yang sedikit lebih baik daripada hari-hari biasa.
Aku masih ingat bagaimana ia menggenggam uang itu setelah menerima weselpos. Tidak banyak jumlahnya mungkin hanya cukup untuk beberapa hari. Tetapi wajah ibu biasanya terlihat sedikit lega.
Kami kemudian berjalan ke pasar, aku mengikutinya dari belakang, kadang membawa tas belanja kecil. Ibu akan memilih ayam, dan beberapa kebutuhan lain terutama kerupuk seperti legendar berukuran besar berwana kuning. Ia selalu berusaha menghitung agar uang itu cukup sampai kiriman berikutnya.
Tetapi perhitungannya sering kalah oleh rasa kasihan kepada anak-anaknya.
Termauk ketika ia mencoba bisnis. Jika ada orang yang datang ke warung atau tempat kami berjualan dan tidak memiliki cukup uang, ibu sering memberikannya begitu saja. Baginya mungkin itu bukan kerugian. Ia selalu percaya bahwa rezeki akan datang dari tempat lain.
Aku belum mengerti soal uang ketika itu, yang kuketahui hanya, ayam yang dibeli ibu harus dibagi untuk kami semua.