Ketika anak berkunjung ke jakarta, dan di sebuah kesempatan menemui kakeknya hingga beberapa hari, aku sama sekali tidak menyangka jika kunjungan akan menjadi persoalan baru di dalam keluarga, menimbulkan kecemburuan yang besar. Mereka merasa bahwa aku berada di balik rencana itu. Meskipun aku sama sekali tidak pernah memikirkannya sehingga tidak ada motif apapun yang mencoba aku dorong untuk membuat cucunya lebih menyukai nenek tirinya daripada nenek dari pihak aku bapaknya.
Tetapi ternyata, bagi sebagian orang, kedatangan seorang anak ke rumah kakeknya bukan sekadar kunjungan, ada persaingan perasaan, perhatian, dan tanpa kusadari, anakku telah masuk ke dalam ruang yang selama bertahun-tahun dipenuhi luka lama.
Katanya mereka telah menunggu kedatangan anakku, menyiapkan makanan dan juga titipan jajanan jika pulang, tapi hingga tiga hari kemudian tidak ada kabar kedatangan. Mungkin mereka membayangkan anak itu akan datang, menghabiskan waktu bersama mereka, lalu pulang membawa cerita dan kenangan. Semua membuat permusuhan itu semakin meruncing.
Aku baru mengetahui persoalan itu setelah semuanya mulai membesar.
“Kenapa tidak bilang dari awal?” seseorang bertanya kepadaku.
“Bilang apa?”
“Kalau anakmu mau ke sana.” Aku tidak langsung menjawab.