Setelah menikah, aku baru menyadari bahwa persoalan yang selama ini kuanggap sebagai urusan keluarga ternyata ikut masuk ke dalam rumah tanggaku. Istriku berada di persimpangan yang tidak pernah ia minta.
Kepada siapa ia harus lebih banyak berinteraksi? Kepada ibu kandungku yang selama puluhan tahun hidup jauh dariku, atau kepada ibu tiriku yang justru lebih sering hadir dalam kehidupanku sejak kecil?
Pertanyaan itu sebenarnya tidak pernah kuucapkan kepadanya, tetapi aku tahu ia memikirkannya. Ia tidak ingin salah bersikap.
Jika terlalu dekat dengan ibu tiriku, ia takut ibu kandungku merasa disisihkan. Jika terlalu dekat dengan ibu kandungku, ia khawatir ibu tiriku merasa keberadaannya tidak dihargai. Padahal istriku tidak pernah menjadi bagian dari pertengkaran masa lalu kami.
Ia tidak tahu bagaimana semuanya bermula, ia hanya menerima akibatnya. Aku sendiri pun tidak selalu tahu harus menempatkannya di mana, yang lebih menyulitkan, untuk berbicara dengan ibu kandungku saja terkadang aku membutuhkan perantara. Bukan karena ibu tidak mau berbicara denganku, tetapi karena hubungan kami sudah terlalu lama dibentuk oleh jarak, kebiasaan, dan luka yang tidak pernah benar-benar dibicarakan.
Ada saat-saat ketika aku ingin menelepon ibu, tetapi kemudian mengurungkan niat, takut pembicaraan sederhana berubah menjadi persoalan lain. Aku takut salah menyampaikan sesuatu, takut perkataanku dianggap sebagai keberpihakan.
Akhirnya aku meminta adik menyampaikan sesuatu kepada ibu, sesuatu yang sebenarnya bisa selesai dalam lima menit, kadang membutuhkan beberapa hari karena harus melewati orang lain. Aku pernah berpikir, bagaimana mungkin seorang anak membutuhkan perantara hanya untuk berbicara dengan ibunya sendiri? Tetapi begitulah keadaan kami.