Rumah Ibu 3.915 Mil Jauhnya

Hans Wysiwyg
Chapter #13

Romansa dan Jebakan Masa Lalu

Sejak surat-surat itu datang aku merasa ibuku hadir lagi dalam hidupku, sesuatu yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya, jika kami bisa berbicara lagi meskipun hanya melalui surat.

Tak berselang lama, sebuah surat juga sampai ke sekolah. Sekarang ada dua orang yang sama-sama dekat bisa tersambung lagi silaturahminya.

Ternyata hubungan pertemanan yang hanya seumur jagung saat tiga bulan di Sumedang itu diam-diam tumbuh menjadi sesuatu yang berbeda. Kami memang tidak pernah mengucapkan apa pun secara terang-terangan, tetapi surat-surat yang terus datang kemudian membuat jarak terasa semakin pendek. Setelah pertemuan itu, surat kami tidak pernah benar-benar putus.

Sesekali aku bercerita tentang kehidupan di tempatku. Tentang kuliah, teman-teman, atau gadis-gadis yang kutemui. Pernah suatu kali aku mengatakan bahwa gadis-gadis di sana banyak yang keturunan Arab dan Eropa, hanya untuk bercerita tentang lingkungan baruku, tapi surat berikutnya datang dengan nada yang berbeda.

Ada semacam kecemburuan yang disembunyikan di antara kalimat-kalimatnya. Ia tidak pernah mengatakan secara langsung bahwa ia cemburu, tetapi aku bisa membacanya dari cara ia menanggapi ceritaku. Ternyata aku bukan satu-satunya orang yang memikirkan hubungan ini.

Ketika aku mengatakan bahwa aku masih mengingatnya, jawabannya menjadi lebih hati-hati. Seolah-olah ia sedang menunggu sesuatu yang lebih jelas dariku, ia berharap pertemanan kami tidak berhenti sebagai pertemanan. Aku tahu dia mulai membayangkan sesuatu yang lebih serius. Tetapi pada usia itu, kami belum cukup dewasa untuk memahami bagaimana perasaan bisa berhadapan dengan keadaan.

Kami hanya tahu bahwa kami saling menunggu surat, dan itu sudah cukup membuat hari-hari terasa berbeda. Masalahnya kemudian bukan pada kami, tapi ada pada tembok yang berdiri jauh sebelum kami saling mengenal. Keluarganya keberatan, Ibuku pernah menjadi bagian dari sebuah persoalan yang membuat hubungan antarkeluarga mereka terluka, dan bagi mereka, luka itu belum selesai.

Aku baru memahami betapa anehnya keadaan itu ketika suatu hari ia menulis bahwa keluarganya tidak menyukai hubungan kami. Ada bagian yang membuatku sedih, tetapi ada pula yang membuatku bingung. Memangnya apa salahku?

Aku bahkan belum lahir ketika sebagian persoalan itu terjadi, aku tidak memilih siapa ibuku, dan bagaimana kehidupan orang tuaku. Namun ternyata seseorang bisa mewarisi akibat dari keputusan orang lain bahkan sebelum ia memahami sejarahnya. Begitulah masa lalu bekerja.

Kami kemudian memilih cara yang mungkin paling kekanak-kanakan sekaligus paling masuk akal bagi kami saat itu surat-surat rahasia, melalui sekolah. Kami bercerita tentang rasa rindu yang tidak berani kami sebut sebagai cinta.

Kami tahu sejarah orang tua kami seperti tembok tinggi yang tidak mungkin kami robohkan dengan beberapa lembar surat, tapi kami juga tidak tahu bagaimana cara berhenti. Jika kami berhenti berkirim surat, kami merasa seperti menyerah pada sesuatu yang bahkan bukan kesalahan kami, dan jika kami teruskan, kami seperti sedang berjalan diam-diam melawan keluarga.

Suatu hari suratnya datang, dengan sebuah pertanyaan. Apakah kita sebaiknya tetap seperti ini?

Aku ingin mengatakan bahwa aku akan mempertahankannya.

Tetapi ada kehidupan panjang yang mungkin harus kami jalani setelahnya. Aku tidak ingin menjadikan perasaan sebagai alasan untuk membuatnya harus memilih antara aku dan keluarganya.

Lihat selengkapnya