Rumah Ibu 3.915 Mil Jauhnya

Hans Wysiwyg
Chapter #29

Menyimpan Luka Dalam Surat-Surat dari Mekkah

Aku menyesali kehilangan surat-surat ibu di dalamkoper itu. Meskipun sebenarnya surat-surat itu sudah semestinya hilang saat ibu menuliskan pesan untukmembakarnya setiap selesai membacanya.

Ada kritik dan suara hatinya yang jujur tentang madunya yang ia tulis dalam surat-suratnya hanya sekedar sebagai curhatan tanpa diikuti rasa benci berlebihan. pada akhir ia hanya mengatakan bahwa ketika semua masalah tidak menjadi jelas sebab musababnya, maka selama itu, praduga yang berujung pada kebencian akan tetap ada.

Ibu tak menyalahkan siapapun sebagai muasal masalah, menurutnya itu hanya sebuah qadarullah saja.

Aku telah menyusun semua surat itu dalam lembaran-lembaran rapi berdasarkan tanggal, termasuk dengan menjepit setiap amplop yang sebagian perangkonya telah hilang. Beberapa hilang di sekolah, dan di kampus.

Foto-foto polaroidnya juga aku biarkan tersimpan di masing-masing surat. Jika aku rindu ibu, aku akan mengunci pintu kamar, membuka koper oranye itu, dan membaca setiap surat seperti layaknya sebuah potongan cerita, dan nasehat.

Dari kepingan-kepingan itu aku membuat sebuah catatan, mirip sebuah novel yang aku buat judul, Surat-Surat dari Mekkah.

Sayangnya setelah semua surat-surat itu hilang di bakar, terpaksa hanya melalui ingatan yang masih setia tertinggal aku membuatnya menjadi kepingan puzzle, yang aku rakit sebisanya menjadi sebuah gambar besar.

Aku mmebuatnya berdasarkan usia surat, terutama sejak aku bersekolah, higga kemudian melanjutkan kuliah. Selebihnya catatan cerita itu berisi improvisasi, yang sumbernya juga dari ingatanku.

Aku menyesali kehilangan surat-surat ibu di dalam koper itu.

Padahal, jika mengikuti pesan ibu, surat-surat itu memang seharusnya tidak pernah sampai tersimpan selama bertahun-tahun. Ibu selalu meminta agar setiap surat dibakar setelah selesai dibaca. Mungkin ia tahu, surat adalah tempat paling aman untuk mengatakan sesuatu, tetapi sekaligus tempat paling berbahaya jika jatuh ke tangan orang lain.

Namun sebagai anak, aku tidak pernah tega membakarnya, aku memilih menyimpannya satu demi satu, meski selalu merasa cemas dan dibayangi ketakutan jika surat-surat itu dibaca oranga lain.

Lihat selengkapnya