Rumah Ibu 3.915 Mil Jauhnya

Hans Wysiwyg
Chapter #30

Memintas Jarak 3.915, Setelah 30 Tahun

Aku memulai perjalanan penuh risiko itu selama dua hari, nyaris tanpa jeda. Aku sudah telanjur mengiyakan ketika mertuaku, yang memiliki aset di sebuah titik di Jawa, memintaku memastikan keberadaan dan statusnya.

Meskipun aku sudah beberapa kali bepergian ke Jakarta dan Bandung, perjalanan menuju sebuah kota kecil di Jawa Timur terasa berbeda. Tidak ada petunjuk yang benar-benar jelas. Aku hanya membawa alamat, beberapa nama tempat, dan rujukan dari peta. Selebihnya, aku seperti turis yang tersesat dan berharap jalan akan membawaku ke tempat yang benar.

Aku tidak mengemas pakaian dalam koper. Kupikir perjalanan ini tidak akan terlalu panjang. Sebuah ransel sudah lebih dari cukup. Lagi pula, tidak ada tenggat waktu yang harus kukejar. Tidak ada deadline yang membuatku harus tiba pada tanggal tertentu. Yang penting aku sampai, menemukan lokasi yang dimaksud, lalu menyelesaikan urusan itu.

Justru karena itulah perjalanan ini terasa seperti pelesir.

Untuk menghemat waktu, aku memilih perjalanan pertama dengan menggunakan pesawat terbang. Aku memilih penerbangan Garuda dari Bandara Internasional Blang Bintang, dengan waktu keberangkatan yang kupilih berdasarkan harga tiket promo paling murah.

Dengan jaket, celana denim, kaus, dan sebuah ransel di punggung, aku merasa seperti seseorang yang hendak pergi berlibur tanpa tujuan yang terlalu jelas. Meskipun telah diberi alamat dan melihatnya di peta, karena perjalanannya begitu jauh, aku tetap tidak benar-benar bisa membayangkan tujuan sebenarnya.

Dari bandara, aku harus menuju stasiun terdekat dengan perjalanan yang juga belum terlalu kukenal. Sepanjang jalan, aku justru lebih banyak memikirkan kemungkinan menjadi korban copet daripada tujuan dan jenis kereta yang kupilih. Aku memindahkan semua uang, dompet, dan telepon genggam ke kantong depan. Aku memilih duduk di kursi ketiga dari gerbong tengah.

Sepanjang perjalanan, aku merasa cemas karena seorang laki-laki berbaju kumal dengan rambut gondrong terus mengawasiku dan barang-barangku. Dalam pikiranku, orang itu pasti copet.

Tak lama kemudian, ia bergeser dari tempat duduknya dan pindah tepat ke sebelahku. Ia terus berbicara tapi tidak memandang wajahku. Sambil terus bertanya, tapi meminta aku tidak menatapnya.

“Baru pertama, ya?” tanyanya tiba-tiba.

Aku melihatnya dengan perasaan ragu. Bahkan aku sudah bersiap jika ia menyentuh pundakku, menepuk bekas tangannya, sekadar untuk mementahkan ilmu hipnotis seperti yang pernah kubaca di buku-buku.

“Hati-hati dengan HP dan tasnya,” katanya kemudian.

“Jangan menoleh ke sini. Dengarkan saja apa yang aku bilang,” katanya dengan wajah tetap menghadap ke depan. Ia tidak menoleh kepadaku, tetapi terus berbicara.

“Kamu lihat orang-orang berdasi di depan pintu kereta api?”

“Mereka copet. Hati-hati kalau kamu nanti tidur. Jaga barang-barangmu.”

Sudah delapan jam aku melakukan perjalanan dengan kereta api. Masih sekitar satu jam lagi untuk sampai ke tempat tujuan. Setengah jam kemudian, remaja laki-laki itu turun dan meminta izin kepadaku.

Aku tidak tersenyum dan berpura-pura tidak melihatnya, sesuai permintaannya. Aku terus terjaga, sesekali kulirik kumpulan laki-laki dengan jas dan tas di dekat pintu kereta.

Gelagat mereka memang aneh. Di antara beberapa kursi kosong, mereka justru memilih berdiri. Dua orang berada di dekat pintu keluar dan dua lainnya di pintu sebelah. Kedua pintu itu akan menjadi akses keluar menuju stasiun ketika kereta berhenti.

Ketika kereta melewati terowongan dan keadaan menjadi gelap, aku langsung memegang erat tasku. Padahal sebenarnya tas itu tidak berisi uang ataupun laptop. Isinya hanya berkas dan surat-surat. Namun justru surat-surat itulah yang paling kujaga.

Setelah melewati tiga stasiun, akhirnya aku sampai di pemberhentian terakhir, aku sudah bersiap. Ransel kutaruh di depan tubuh agar jika ada yang menariknya, aku masih bisa mendorong atau mempertahankannya. Tidak ada penumpang lain di dekat pintu, aku turun dengan sedikit santai.

Lihat selengkapnya