Waktu masih menunjukkan pukul 10 pagi. Ipah, seorang ibu muda sudah menyelesaikan seluruh pekerjaan rumahnya. Cuciannya hari ini tidak begitu banyak, dan ia sudah menghamparkan cucian itu di jemuran samping rumahnya. Warungnya sudah ia buka sejak pukul 6 pagi. Di jam itu, sudah mulai banyak pembeli yang mendatangi warungnya. Ada yang membeli mie instan dan telur untuk sarapan keluarganya, ada yang beli susu dan minuman sereal untuk sarapan anaknya, ada yang membeli bekal jajan untuk anaknya yang sekolah, ada yang membeli minyak tanah untuk persiapan masak, dan masih banyak lagi.
Suaminya yang hanya sebagai supir angkot telah berangkat setelah membantunya membuka dan mempersiapkan warung. Sudah hampir 6 tahun ia menjalani hidup susah dengan suami keduanya ini. Sebenarnya wanita muda ini sudah tidak betah, tetapi ia malu jika bercerai 2 kali. Suaminya yang pertama adalah PNS di bidang perawat gigi. Ada rasa sesal di dadanya mengapa ia harus bercerai dengan suaminya yang pertama. Bukan karena keinginannya sebenarnya, tapi terpaksa ia lakukan atas perintah ibunya. Ibunya memaksanya untuk bercerai karena suaminya tukang judi dan tukang selingkuh. Kini dengan suami yang kedua, hidupnya malah terasa lebih sulit.
Dengan suami yang pertama, ia memiliki 1 orang anak lelaki yang tampan. Dengan suami yang kedua, ia memiliki 1 orang anak perempuan yang kurus kerempeng. Sebenarnya dengan suami yang kedua ini, ia sudah mengalami 3 kali keguguran. Jadi seandainya anak yang keguguran itu jadi semua, jumlah anak mereka sudah 4.
Ia sudah membenahi rumah kontrakan yang sangat kumuh ini. Ya, ia dan suaminya hanya mampu menyewa kontrakan kumuh dan sempit ini dikarenakan kondisi mereka yang masih jauh dari kata mapan. Bagian muka rumah, dijadikan perempuan muda ini sebagai warung kecil. Yang mana dari warung kecil ini ia bisa memiliki tabungan untuk membeli tanah yang murah di daerah pinggiran Tangerang yang masih sangat sepi. Dan sedang mempersiapkan untuk membangun rumah di atas tanah itu.