
Siang hari yang sangat panas terjadi keributan lagi di rumah kontrakan kumuh dan sempit. Kontrakan tak layak yang open space itu memperlihatkan ke luar semua isi di dalam rumah. Ada tembok lembab keropos dan pintu triplek yang membatasi ruang depan dengan kamar mandi. Di ruang depan terisi kasur beserta dipannya, dipan itu berhimpitan dengan tembok rumah. Dinding rumah itu berbatasan dengan dinding tembok kamar pemilik kontrakan. Di sisi samping kasur ada lemari pakaian yang lebar, di atas lemari terletak mangkuk dan piring berisi lauk-pauk. Di depan kasur berdiri rak-rak tinggi yang berdempet dengan tembok sisi kanan dan sisi kiri. Rak-rak itu berisi barang dagangan. Di garis batas bagian depan rumah berdiri stealing kaca yang luas yang juga berisi barang dagangan. Di luar garis batas tertata rapi berbagai makanan ringan.
Dari dalam rumah terdengar suara sang ibu yang meneriaki anak perempuan kecilnya. Tak hanya diteriaki, gadis kecil itu juga dipukuli dan didorong sampai tubuhnya terpental ke luar rumah. Anak kecil yang baru menginjak usia 5 tahun itu dimarahi sang ibu, karena menolak perintah ibunya untuk menjagai warung. Sang anak menolak karena ia ingin bermain keluar rumah seperti kawan-kawannya yang lain. Ia bosan terkurung terus di rumah berhawa panas ini. Ia juga ingin bermain seperti anak-anak seumuran di lingkungannya. Ia penat di usianya yang masih sangat kecil itu harus menjaga warung atau menjagai adik bayinya. Anak-anak lainnya di luar sana tak seperti dirinya. Mereka bebas bermain, berlarian ke sana ke mari, atau jalan-jalan sore bersama teman-teman.
"Anak durhaka kamu! Udah susah payah aku gede-gedein kamu tapi kamu gak bisa diharapin. Kamu pikir makan di rumah ini gratis hah? Duit bisa datang sendiri, gitu? Gak ada yang gratis di dunia ini, tau kamu! Kalo kamu memang gak bisa diharapin, gak usah tinggal di rumah ini, cari mamakmu yang lain sana! Cari orang yang mau ngasih makan kamu!" Makian yang sangat kasar terlontar dari seorang ibu yang katanya kasihnya sepanjang masa.