
Matahari terbenam sempurna di ufuk barat, azan magrib sedang berkumandang. Asti bernyanyi lirih, ia menyanyikan lagu anak-anak yang sering didengarnya dari televisi. Sambil bernyanyi ia memutar-mutar tubuh kurusnya. Ia terlihat bahagia, ya seperti itulah seharusnya kehidupan anak sekecil Asti. Anak kecil polos itu tak tahu ada hal buruk yang akan menimpanya beberapa menit kemudian.
Biasanya ia akan segera menunaikan salat magrib. Tapi ibunya masih berada di dalam kamar mandi. Ibu Asti sedang mandi, membersihkan seluruh tubuhnya dari peluh dan rasa lelah setelah seharian menjalankan tugasnya sebagai ibu merangkap tulang punggung di rumah kontrakan sempit itu. Ayah Asti yang hanya mampu bekerja sebagai supir angkot tembak tak pernah mampu mencukupi kehidupan sehari-hari mereka.
Adik bayinya yang baru berusia 2 bulan sedang meracau di tempat tidur satu-satunya di rumah sempit itu, ditemani kak Dian, tetangga belakang rumah mereka. Kak Dian baru saja memasuki masa SMA. Gadis manis dari suku Aceh itu memiliki otak yang cerdas jadi ia diterima di SMA favorit di kota tempat ia tinggal. Kak Dian sangat menyukai adik bayi Asti. Semenjak ada Fauzan, nama adik bayi Asti itu, kak Dian selalu main ke rumah sempit Asti. Padahal sebelum Fauzan lahir, kak Dian tak pernah main ke rumah Asti, hanya sesekali mampir ke warung Asti untuk belanja.
Asti senang ada kak Dian, sebab ada yang membantunya menjagai adik bayinya itu. Sebab, bila ibu Asti sedang sibuk melayani pembeli, Asti selalu diperintah untuk berdiam di samping adiknya, menjaga si anak bayi supaya tetap anteng. Di rumah yang pengap itu, Asti yang hanya anak kecil tidak pernah lepas dari tugas domestik rumahtangga. Perempuan kecil itu selalu diperintah-perintah ibunya yang temperamen, seperti budak belian. Disuruh ke toko grosir di pasar untuk membeli barang dagangan yang habis. Disuruh beli sayur di ujung gang depan. Mondar-mandir ke warung nasi membeli lauk yang diinginkan ibunya, jika ibunya sedang malas memasak. Disuruh beli daun singkong ke kebun gelap dekat rumah sekolahnya, ketika ibunya sedang berselera masak daun ubi tumbuk. Disuruh membeli kudapan di dekat mesjid raya. Semua tempat yang Asti sambangi itu sangat jauh dari rumahnya. Tapi Asti tak bisa menolak, ia tak ingin badannya yang hanya tulang dan kulit itu dipukuli ibunya bertubi-tubi. Ia akan selalu menuruti menjalankan perintah dari ibunya, merelakan kaki kecilnya yang seperti kaki ayam itu berjalan ke sana-kemari.
Seringkali gadis kecil itu menerima hardikan atau pengabaian dari orang-orang dewasa, seperti ketika ia membeli daun singkong dengan uang 500 rupiah, ia dimarahi habis-habisan oleh kakek pemilik kebun. "Besok-besok gua ogah ah kalo ada yang beli 500 perak, dapet apaan jaman sekarang lima ratus perak? Kalo mau beli pake uang seribu dong! Gak bakal gua layanin besok-besok kalo ada yang beli pake duit lima ratus perak begini." Asti merasa bersalah, sebenarnya apa yang dikatakan kakek pemilik kebun ini benar, kedua orangtua Asti juga sering membentak pembeli jika si pembeli hanya membeli sedikit ke warungnya.
Ketika membeli daun sirih juga ia menerima hardikan dari anak pemilik kebun, dikarenakan Asti telah mengganggu istirahat sorenya, si anak pemilik kebun jadi kotor-kotoran lagi karena harus memanjat pohon padahal ia baru saja mandi sore. Karena kebun itu terletak tepat di samping rumahnya, ibu Asti mendengar gadis kecilnya dibentak-bentak, dan ia hanya tertawa-tawa memandangi kejadian itu dari balik jendela rumahnya.