RUMAH IMPIAN ASTI

Sarjana MIPA
Chapter #9

Chapter 9. RUMAH IMPIAN ASTI

Sore hari yang cerah, cahaya matahari masih menyinari bumi dengan teriknya. Udara panas menyelimuti sebuah gang ramai di kawasan Serengseng, Jakarta Barat. Asti sedang duduk di depan rumah menjagai warung ibunya, tugas ini ia jalankan ketika tak ada kegiatan sepulang sekolah. Kedua tangannya sibuk mengipas-ngipasi tubuhnya dengan sobekan kardus Indomie. Keringat membasahi seluruh tubuhnya, sesekali ia menyeka keringat di wajahnya. Ia asyik memperhatikan anak-anak seusianya yang bermain kejar-kejaran. Jeritan dan tawa riang anak-anak itu ikut mewarnai sore yang terik. Senyuman Asti terbit ketika sepasang bola matanya melihat kedatangan sang sahabat. Reka, datang mengendarai sepeda BMX kesayangannya. Gadis kecil itu buru-buru bangkit dari duduknya berlari menghampiri. Reka menapakkan kakinya menahan laju sepedanya, kemudian tersenyum sambil berkata, "Lagi free?"

"Iya." Jawab gadis kecil itu.

"Mau jalan-jalan?"

Gadis itu mengangguk dengan cepat.

"Ayok!"

Reka memutar arah sepedanya kembali ke arah ia datang tadi. Dengan cepat Asti berdiri di footstep boncengan. Sepeda melaju perlahan membelah kerumunan anak-anak kecil yang sedang bermain. Sorak sorai anak-anak menyambut mereka, "Cie...cie... Asti dibonceng cowoknya cie..."

Asti hanya tersenyum menanggapi ejekan anak-anak seusianya itu. Dalam hatinya ia berkata, "Seneng banget gua di-cengin sama cowok seganteng Reka, emang dari pertama gua ketemu ni cowok gua langsung naksir."

Tapi jauh di dalam hatinya ia juga ragu, apa pantas anak kelas empat SD sudah mulai suka-sukaan. Tapi tak dipungkirinya Asti memang selalu senang bila sahabat tampannya itu datang ke rumahnya. Sebab lelaki yang selalu mengendarai BMX itu selalu memboncengnya kemana pergi, jadi gadis kecil ini tak perlu capek berjalan kaki sebagaimana biasanya. Reka juga selalu menjaganya, seolah Asti adalah adik kecilnya.

Diperjalanan Asti bertanya, "Kita mau kemana Ka?"

Reka menjawab sambil terus mengayuh pedal sepedanya, "Biasa, nganter elu ke Rezi."

Reka selalu saja begitu, selalu menjodoh-jodohkan Asti dengan Rezi, padahal bibirnya ingin sekali berkata, "Gua kan sukanya sama elo."

Tapi Asti tak pernah punya keberanian itu. Ia takut Reka akan merasa jijik padanya. Dan yang terparahnya, persahabatan mereka akan bubar.

"Oh, ke komplek Intercon lagi." Lanjut Asti.

"Ya iyalah, emang mau kemana lagi." Jawab Reka.

Sebenarnya Asti ingin sekali jalan berdua saja dengan pujaan hatinya ini, keliling kompleks perumahan di ujung belakang jalan seperti sore-sore yang lalu. Tapi, berhubung sudah lama ia tak berkunjung ke rumah Rezi, gadis kecil itu menurut tanpa komplain. Hari ini hari Kamis, hari dimana Asti terbebas dari urusan les dan mengaji. Kemarin adalah jadwal terakhir Asti mengaji, besok dan Sabtu jadwal les mapel di rumah wali kelasnya, jadi hari ini dan Minggu adalah jadwal kosong Asti. Reka sudah sangat hapal dengan rutinitas Asti, jadi ia akan datang di hari kosong Asti. Walaupun tidak bisa rutin, karena Asti ditugaskan menjaga warung dan mengerjakan pekerjaan rumah lainnya oleh ibu Asti.

Tadi Asti langsung berangkat tanpa berpamitan kepada ibunya. Karena ia tau jika berpamitan, izin dari ibunya takkan ia dapatkan. Asti lelah dengan rutinitasnya, gadis kecil itu sudah mulai bosan dengan alur hidupnya. Dan Reka adalah candu baginya. Bersama Reka jiwa Asti merasa bebas. Ia yakin ketika pulang nanti ibunya pasti akan memaki bahkan bisa sampai memukulinya lagi karena tadi warung ia tinggalkan begitu saja. Tapi masalah itu nanti saja ia pikirkan. Yang jelas saat ini ia sedang bahagia diboncengan sahabat tampannya. Sore ini ia ingin menghabiskan waktu bersama Reka, sebab hatinya sudah lama merindu.

Tanpa terasa laju sepeda telah membawa mereka ke persimpangan jalan masuk kompleks Intercon. Reka menghentikan kayuhannya, matanya mengawasi kendaraan yang melaju dari kanan, kiri dan arah depan. Asti reflek memeluk leher sahabatnya itu dari belakang. Ketika situasi lalu lintas mulai aman, ia mengayuh pedal sepedanya kembali, menyeberangi jalan raya menuju jalan masuk kompleks perumahan Intercon.

"Sebentar lagi sampai." Batinnya.

Lihat selengkapnya