Siang ini Asti berencana berkunjung ke rumah sahabatnya, Reka. Ia akan belajar matematika materi perkalian bilangan desimal. Ia ingin diajari lagi oleh mas Dima, abang dari sahabatnya itu. Sebenarnya tak ada janji diantara mereka. Tapi Asti ingin sekali diajari lagi oleh mas Dima seperti sebelum-sebelumnya. Sebab baginya cara mas Dima mengajar itu mudah dipahami.
Asti sedang jalan kembali ke rumahnya dari sekolah. Matahari di tengah hari ini tak melemahkan langkahnya. Ia bersemangat, alasannya ia juga kurang paham. Entah karena ia akan belajar dengan orang yang pintar atau karena si orang pintar itu sendiri. Yang penting ia sangat bersemangat. Ia melangkahkan kakinya panjang-panjang agar segera sampai di rumah. Tinggal dua gang lagi yang harus ia lewati. Jarak dari sekolah ke rumahnya sangat jauh, ia harus menempuh jarak dalam waktu 30 menitan dengan langkah kaki yang cepat. Asti tak tahu mengapa ibunya menempatkan ia di sekolah ini. Yang ia duga karena alasan SPP yang lebih murah dan lokasinya bisa diakses dengan hanya berjalan kaki. Padahal di lingkungan tempat Asti tinggal umumnya anak-anak bersekolah di SD negeri favorit yang lokasinya lebih dekat dengan tempat Asti tinggal. Apalagi mutu sekolah Asti tidak begitu bagus. Guru-gurunya galak, malas mengajar dan seringkali memberikan tugas yang berlebihan sampai kadang membebani para wali murid.
Asti sudah sampai di depan rumahnya. Ia segera mengambil kunci di bawah pot bunga, membuka pintu dan masuk ke rumah petakannya. Kedua orangtuanya berjualan kelontong di pasar, jadi mereka selalu meletakkan kunci rumah di bawah pot bunga depan pintu, agar Asti tak perlu lagi ke pasar hanya untuk menjemput kunci seperti tahun-tahun yang lalu. Sejak dia kelas 3 sampai dengan kelas 4 SD ibunya selalu membawa kunci rumah bersamanya ke pasar. Jadi Asti harus menempuh perjalanan dua kali lebih jauh. Tubuhnya yang kurus kecil sudah tak sanggup melakukan perjalanan jauh di bawah terik matahari. Ia sering komplain pada ibunya untuk menitipkan saja kunci itu pada si empu kontrakan, yang letak rumahnya berdempetan dengan rumah petakan ini. Tapi ibunya selalu memberikan alasan yang tak masuk akal. Ibunya takut uang hasil jualan yang tersimpan di rumah akan dicuri oleh pemilik kontrakan. Asti heran, bagaimana bisa ibunya berpikiran sepicik itu. Sudah sebelas tahun Asti hidup bersama kedua orangtuanya, dan turut serta membantu melakukan kegiatan ekonomi, namun hasilnya setiap tahunnya mereka hanya mampu mengontrak di tempat tidak layak ini. Nasib mereka belum jauh berubah. Baru 1,5 tahun Asti tinggal di rumah yang mereka tempati sekarang. Sebelumnya, sejak ia berumur 4 tahun sampai pertengahan kelas 4 SD, mereka tinggal di kontrakan sempit, panas, berlumut, banyak tikus dan kelabang besar. Kini rumah yang mereka tempati lebih nyaman dan sejuk, karena petakan tersebut terdiri dari dua lantai, petakan yang dihuni Asti berada di lantai bawah. Lantai atas adalah kamar anak bujang pemilik kontrakan. Sebenarnya pemilik kontrakan yang dulu dengan sekarang masih orang yang sama. Lokasinya juga masih sama dengan lokasi kontrakan yang lama. Hanya pindah dari sebelah kanan ke sebelah kiri saja.
"Nambah susah hidup gua aja. Buat gua capek aja." Keluh Asti.
Sebab Asti selalu mendengar ibunya mengeluh soal tak ada uang setiap harinya.
"Gak mungkinlah orang miskin kecurian. Mana ada yang mau nyuri di rumah orang miskin." Logikanya.
Asti melepaskan pakaiannya. Seragam merah-putihnya ia gantung dengan hanger di sisi dinding yang sejajar dengan headboard tempat tidur. Ia menuju ke kamar mandi, tubuhnya yang penuh oleh keringat harus segera dibilas dengan air dan sabun. Ia ingin terlihat bersih dan rapi di depan mas Dima. Selesai mandi ia menaburkan bedak bubuk ke seluruh tubuhnya. Lalu mengambil setelan blouse dan rok bermotif bunga-bunga timbul kesukaannya. Ia segera memakainya dengan sangat rapi. Menyisir rambutnya yang panjang sebahu, membelahnya tepat ditengah kemudian menjepitkan jepitan rambut di sisi kiri dan kanan kepalanya. Selesai berdandan, Ia mempersiapkan buku yang akan dibawa. Ia tergesa-gesa. Tak sempat makan siang. Lagipula ia tak pernah berselera terhadap masakan ibunya. Setelah meletakkan dengan rapi tas sekolahnya di sisi bawah meja makan sederhana, ia mengambil buku yang perlu dibawa, menutup dan mengunci pintu, kemudian meletakkan kembali kunci itu di bawah pot bunga. Ia bergegas sebelum ayahnya pulang.
Biasanya ayah dan adik lelakinya akan pulang diwaktu zuhur seperti ini. Ia benci melihat ayahnya. Lelaki yang lebih muda 2 tahun dari ibunya itu sangat pemalas. Asti benci itu. Apalagi dengan tingkahnya yang mesum. Orangtua Asti sering bercinta di hadapannya selama bertahun-tahun. Maklum saja, rumah mereka tanpa sekat. Saat kedua orangtuanya bercinta, suara derit tempat tidur, kecipak tubuh yang menyatu, serta lenguhan panjang seperti sengaja diperdengarkan kepada Asti. Apalagi saat mereka semua masih seranjang. Asti sudah jengah dengan hal menjijikkan itu. Sering ia meminta pindah kontrakan yang ada kamarnya, seperti rumah teman sekolah dan teman bermain di lingkungannya. Asti ingin ia memiliki kamar untuk dirinya sendiri. Ia sudah besar, ia akan menjadi remaja dan sudah merasa tak lagi pantas untuk menyaksikan hal-hal privasi seperti itu. Tapi ibunya selalu beralasan tak punya uang. Selalu saja tak punya uang.
Asti keluar pagar dengan berlari kecil. Ia harus berkejaran dengan waktu. Ia harus telah melewati simpang 4 gang kecil dalam waktu 5 menit. Sebab ia tak mau berpapasan dengan ayahnya yang suka bercandai dirinya dengan mempelesetkan namanya dengan panggilan yang buruk di depan orang banyak. Ia benci perilaku norak itu. Asti terbiasa dididik dengan cara militer baik di rumah oleh ibunya maupun di sekolah oleh guru-gurunya. Jadi ia terbiasa tegas dan tak pandai berbasa-basi. Ia lebih memilih punya ayah yang tegas ketimbang cengengesan seperti ayahnya itu. "Kayak anak-anak, gak ada wibawanya." Pikir Asti selama ini.
Ia ingin sekali punya ayah seperti ayah teman-temannya, yang tak banyak bicara dan jarang berada di rumah karena bekerja, seperti pekerja kantoran atau paling tidak punya pekerjaan tetap yang gajinya cukup untuk menafkahi keluarga. Ia gerah mendengar ibunya yang selalu mengeluh bahkan kadang mengamuk dikarenakan penderitaan ekonomi yang diakibatkan suaminya itu. Sering sekali Asti ikut jadi sasaran luapan emosi ibunya. Jika anak-anak di usia sebaya Asti, mereka akan membangga-banggakan ayahnya, tidak dengan Asti. Jika ada kutipan yang menyatakan 'Cinta pertama anak perempuan adalah ayahnya', maka tidak dengan Asti. Ia bahkan malu punya ayah seperti ayahnya.
Ia telah sampai di ujung jalan. Misinya berhasil agar tidak berpapasan dengan ayahnya. Ia segera menyeberangi jalan raya dua arah itu. Tidak sulit baginya, karena siang itu kendaraan tampak lengang. Ia terus berjalan menyusuri pinggir jalan raya menuju gang rumah mas Dima. Dirinya sudah tidak sabar untuk segera bertemu mas Dima. Lelaki yang baru saja menginjak usia dewasa awal itu sangatlah Asti kagumi. Laki-laki muda itu sungguh sangat berwibawa di mata Asti. Ia tak banyak bicara. Candaannya pun terkesan maskulin tidak mengurangi wibawanya. Banyak nasehat positif dan motivasi yang membangun didapat gadis kecil itu dari si lelaki muda, yang tak pernah ia dapatkan dari ayahnya. Begitulah seharusnya cinta pertama seorang anak perempuan yang Asti dambakan. Dan Asti menjatuhkan cinta pertamanya pada abang sahabatnya itu.

Asti telah sampai di depan pagar rumah mas Dima. Pintu pagar terbuka lebar. Asti langsung saja masuk. Pintu utama pun terbuka lebar. Tapi tak ada satupun anggota keluarga di rumah ini yang nampak. Asti mengucapkan salam berulang kali, namun tak ada sahutan sama sekali, mungkin suaranya teredam oleh suara dari televisi yang menyala. Lama Asti menunggu di muka pintu, ia pun masuk dan meletakkan bukunya di atas meja, ia tetap berdiri di pinggir sofa sambil mencoba kembali mengucapkan salam. Seorang laki-laki bertubuh tambun memakai sarung keluar dari pintu kamar. Itu adalah mas Fakhrul, abang dari mas Dima, abang tertua Reka. "Wa'alaikumsalam!" Sahut mas Fakhrul lembut.
"Eh, Mas abis salat ya?"
"Iya. Kamu ke sini mau ngapain? Kalo cari mas Dima, dia belum pulang dari sekolahnya." Mas Fakhrul menjelaskan sambil tersenyum menggoda. Lelaki tambun itu tahu betul bahwa Asti adalah pengagum berat adik tampannya itu.
"Oh." Jawab Asti dengan wajah memelas.
Informasi itu membuat kakinya yang sedari tadi tidak berhenti berjalan menjadi ngilu. Padahal, tadi ia tidak merasakan apapun.
"Kok kayak kecewa gitu?" Canda mas Fakhrul.
"Enggak kok Mas. Ini mau belajar tentang perkalian desimal sama mas Dima. Kirain tadi mas Dimanya udah di rumah."
"Ya belum lah. Kamu kecepetan datengnya. Jadwal pulang SD sama SMA kan beda. Dia pulang sore itu. Reka juga belum pulang ini."
"Ya udah. Aku pulang aja Mas." Asti kecewa. Ia mengambil bukunya kembali dan bersiap melangkah ke luar rumah.
"Eh. Tunggu dulu. Sini diajarin sama aku. Masak kamu pulang lagi. Emang gak capek apa jalan jauh begitu?"
Asti pun kembali ke arah sofa.
"Tapi aku makan dulu ya." Izin mas Fakhrul.
"Iya Mas."
Suara denting piring yang diletakkan di atas meja terdengar. Mas Fakhrul tampak menuangkan nasi ke atas piring beserta beberapa macam lauk dan sayur. Ia makan cukup lahap. "Kamu udah makan?"
"Udah Mas di rumah tadi."
"Makan lagi aja di sini. Ini ada semur tahu-tempe, ayam goreng, sama sambel ati. Sayurnya sayur sop ada telor puyuhnya sama makaroni."
"Gak usah Mas. Udah kenyang." Asti terpaksa berbohong, ia tak pernah berselera makan nasi, ia tak ingin apapun selain roti, biskuit, kue jajanan pasar dan kerupuk.
"Kamu tuh kurus banget tauk. Makan yang banyak biar gemukan nih kayak aku. Kalo kurus banget begitu mas mu mana mau."
Asti hanya tersenyum tipis menanggapi kalimat itu. Ia membuka lembar halaman buku yang akan dipelajarinya nanti.
"Assalamu'alaikum!" Ucap Reka sembari memasuki pintu.
"Wa'alaikumsalam!" Jawab Mas Fakhrul dan Asti berbarengan.
Reka menoleh pada Asti. Asti melemparkan senyum pada sahabatnya itu. Ia menggeser duduknya ke tengah sofa, membiarkan Reka duduk di pinggir sofa untuk membuka sepatu dan kaus kakinya. Reka meletakkan tas yang disandangnya ke samping kakinya. Ia bersandar pada punggung sofa. Ia kelihatan sangat lelah.
"Udah lama di sini?" Tanya Reka pada Asti.
"Belum kok. Baru aja." Jawab Asti.
"Kangen dia itu sama Dim-Dim makanya kemari. Udah lama ga ketemu."
"I ih apaan sih Mas." Sahut Asti cemberut.
Reka hanya terkekeh. Satu lengannya Ia letakkan di keningnya.
"Pulang sama siapa tadi?" Tanya Asti pada Reka.
"Dijemput Papa. Terus dia pergi lagi ke kantornya."
"O oh. Pake mobil?"
"Iya pake mobil. Panas banget, macet di jalan."
"O oh." Asti heran, padahal hidup Asti lebih sulit. Ia pergi dan pulang sekolah dengan berjalan kaki, bahkan barusan ke rumah ini pun berjalan kaki sendirian padahal baru saja pulang sekolah, namun dirinya tak pernah mengeluh.
"Mas, masih ada air dingin gak di kulkas?" Tanya Reka.
"Banyak tuh." Jawab mas Fakhrul.
Reka berjalan menghampiri kulkas di dapur.
"Makanlah! Ajak tuh cewek si Dim-Dim makan, tadi udah kuajak tapi gak mau dia!" Perintah mas Fakhrul pada Reka.
"Iya, bentar lagi. Mau ganti seragam dulu ke atas." Sahut Reka.
Reka langsung menenggak air dingin dari botol kaca sampai tersisa separuh lagi. Ia letakkan kembali botol itu di rak sisi pintu kulkas, kemudian menutup kembali pintu kulkas. Ia berpamitan pada Asti ke atas untuk mengganti seragam ke kamarnya di lantai 2. Sambil menjinjing tasnya, Reka meniti anak tangga dengan langkah gontai.
"Capek banget keliatannya. Ampe lemes gitu." Batin Asti.
Asti menatap mas Fakhrul yang sibuk menyuap dan mengunyah makanannya. Gerakannya sangat cepat dan lahap. Ia menuang kembali nasi dari dalam bakul plastik, kemudian menambahkan semua lauk dan sayur di atasnya. Entah sudah yang keberapa kali.
"Pantes aja gendut. Selera banget makannya." Pikir Asti.
Acara Tralala Trilili sedang tayang di TV. Asti senang, beberapa lagu favoritnya biasanya akan muncul. Di usianya yang telah menginjak 11 tahun, Asti masih senang mendengarkan lagu anak-anak. Padahal ada banyak band yang memproduksi lagu-lagu cinta untuk remaja. Tapi Asti masih merasa asing dengan band-band seperti Dewa 19, Sheila on 7, ataupun penyanyi solo seperti Melly Goeslaw. Ia masih senang mendengar lagu-lagu dari Maissy, Chikita Meidy, Trio Kwek-kwek, dan penyanyi cilik lainnya. Ibunya tak pernah mengizinkannya untuk mendengarkan musik dari band-band itu. Ibunya melarang Asti mendengarkan lagu-lagu berlirik cinta. Padahal di sekolah, Asti sering mendengar teman-teman sekelasnya menyanyikan lagu dari Sheila on 7 dan Dewa 19. Juga musik barat seperti Westlife. Mereka juga sering menyetel lagu Vengaboys, Aqua, Nsync dan Blue saat latihan dance di sekolah. Asti tak tahu semua itu, yang ia tahu hanyalah musik anak-anak. Ia selalu menganggap dirinya masih anak-anak seperti yang diinginkan ibunya. Akan tetapi, dilain sisi, ia sering dipaksa dewasa secara fisik dan pemikiran oleh ibunya.
Ibu Asti adalah wanita yang manipulatif. Pernah suatu ketika, teman kecilnya yang bernama Wila menyanyikan salah satu lagu band Sheila on 7 yang saat itu sedang booming, Asti hanya duduk terdiam memandangi teman kecilnya itu berdendang dengan salah satu pemuda anak pemilik kontrakan yang keluarga Asti tempati. Pemuda bernama Mahya itu tampak begitu antusias bernyanyi bersama anak umur 5 tahun itu. Mereka bernyanyi secara acapella dengan syahdunya. Kebetulan saat itu ibu Asti lewat. Sesaat setelah mereka berdua mengakhiri bait lagu, ibu Asti berceloteh, "Hmmph... kalo Asti mah, mana tau dia lagu band-band kayak gitu. Dia mah taunya lagu anak-anak doang. Masih kayak anak kecil dia mah."
Asti terkejut mendengarkan kalimat yang menyudutkan dirinya itu, ia bergumam dalam hati, "Bukannya memang aku gak dibolehin denger lagu band-band kayak gitu ya, karena lagu-lagu mereka kebanyakan tentang cinta-cintaan? Kok sekarang aku yang dijelek-jelekin di depan orang."
Tapi pemuda itu tak menggubris ucapan ibu Asti, ia hanya fokus pada Wila si gadis gembul yang pintar.
Mas Fakhrul menghampiri Asti. Ia baru saja membasuh tangannya. Aroma masakan melekat pada bajunya. Lelaki tambun itu sendawa beberapa kali.
"Udah kenyang Mas?" Tanya Asti sambil tertawa kecil.
"Udah. Mana tadi materi yang mau dipelajarin? Tentang apa itu?"
"Tentang perkalian desimal Mas. Matematika."
"Oh. Oke. Kita pelajari yang satu angka di belakang koma dulu ya. Yok siapin catatannya!"
Asti bersiap mendengarkan dan mencatat, buku tulisnya sudah sedari tadi terbuka di halaman yang kosong.
"Nih 0,1 × 0,1. Caranya kayak perkalian bilangan bulat.
0,1
0,1 ×
01
00 +
001
Pertama yang harus dikerjain 1 × 1 = 1.
Terus 1 × 0 = 0.
Terus 0 × 1 = 0.
Terakhir 0 × 0 = 0. Jadi di hasil perkaliannya 001.
Nah ada berapa keseluruhan angka di belakang koma?
Ada dua buah angka 1 di belakang koma. Artinya, dari hasil perkalian tadi kita letakkan dua buah angka di belakang koma, jadi hasilnya 0,01."
Asti sibuk mencatat cara pemecahan soal berikut setiap detail penjelasan dari mas Fakhrul. Tangannya bergerak cepat menggoreskan tinta pena di atas bukunya. Mas Fakhrul menunggu Asti selesai mencatat. Setelah ia melihat penggemar adik tampannya selesai mencatat, ia kembali menjelaskan.
"Sekarang kita coba angka yang berbeda, tetapi masih satu di belakang koma. 0,1 × 0,2 . Caranya,
0,1
0,2 ×
02