RUMAH IMPIAN ASTI

Sarjana MIPA
Chapter #13

Chapter 13. MUKENA

Waktu ashar baru saja masuk. Asti beserta seluruh murid ngaji di yayasan madrasah Jami' Ath-thayyibah sedang melaksanakan salat ashar berjamaah yang dipimpin oleh ustadz Arif. Di madrasah ini Asti merupakan murid kelas 4, walaupun di sekolah SD Aya sudah duduk di bangku kelas 5. Di madrasah ini sebagian besar murid akan diturunkan 1 tingkat dari tingkatan kelas di sekolah SD.

Ustadzah Irma dan Ustadzah Rida berkeliling memantau seluruh murid yang sedang melaksanakan salat berjamaah. Bila ada murid yang melakukan kesalahan dalam salat, maka para ustadzah itu akan memperingati dan membenarkan. Biasanya yang ditegur oleh para ustadzah itu adalah murid laki-laki, karena mereka salat sambil bercanda, dorong-dorongan, atau tertawa. Sesekali para ustadzah menegur murid perempuan, biasanya karena salat sambil ngobrol.

Asti selalu melaksanakan salat dengan khusuk. Ia sudah dilatih ibunya untuk teratur dan kontinyu melaksanakan salat 5 waktu sejak umur 4 tahun. Jadi ia terbiasa melakukan ibadah itu dengan benar, apalagi kali ini adalah salat secara berjamaah. Akan tetapi, kali ini ustadzah Irma berkali-kali memukulnya dengan penggaris kayu panjang. Pukulan lembut itu Asti terima ketika sedang i'tidal dan sujud. Sedari rakaat pertama ustadzah Irma selalu memukulnya. Memasuki rakaat keempat, ustadzah Irma yang sudah berkali-kali memukulnya, memperingati Asti dengan lembut.

"Asti, tangannya diturunin yang bener!" Perintah ustadz Irma saat Asti melakukan i'tidal.

"Asti, turunin kakinya yang bener! Gak sah salatnya kalo kaki kamu diangkat-angkat begitu!" Perintah ustadzah Irma saat Asti melakukan sujud.

Bukannya Asti sambil main-main. Asti benar-benar melaksanakan rukun qauli dan rukun fi'li dengan sungguh-sungguh. Tapi memang keadaan yang membuatnya berlaku tidak sempurna dalam gerakan salat. Yaitu karena mukenanya.

Selesai rakaat keempat menuju tahiyat akhir, Asti terpaksa melaksanakan rukun fi'li dengan sebenar-benarnya, karena sebelumnya ia sudah diperingati dengan lisan, dan ustadzah Irma terdengar sudah bosan menegurnya berkali-kali. Saat i'tidal tiba, ustadzah Irma yang berdiri tepat di belakang Asti, tampak terdiam. Begitu pula saat waktu sujud tiba, ustadzah Irma yang masih berdiri di belakang Asti juga masih terdiam. Dari situ ustadzah Irma yang berhati lembut paham mengapa salah satu murid terbaik di madrasah ini berlaku demikian. Rupa-rupanya mukena yang dipakai Asti sudah kependekan, baik atasannya maupun bawahannya. Maka, setelah salam dan doa bersama selesai salat, ustadzah Irma memperingatkan Asti dengan lembut, "Asti, nanti bilang sama mama di rumah supaya beliin Asti mukena yang baru ya, karna ini nampaknya udah kependekan di Asti!"

Asti menyahuti perintah gurunya itu, "Iya bu."

Setelah kejadian itu, Asti selalu meminta pada ibunya agar segera dibelikan mukena baru yang lebih panjang. Tetapi ibunya juga selalu menolaknya. Alasan pertama dari ibunya adalah, "Alah, tanggung beliin kamu mukena baru, nanti juga dibeliin yang baru kependekan lagi. Entar kalo kependekan lagi, beli baru lagi. Begitu terus.Sayang uangnya."

Lihat selengkapnya