RUMAH IMPIAN ASTI

Sarjana MIPA
Chapter #8

Chapter 8. TEKAD ASTI

"Loh mak, kenapa warungnya ditutup?" Asti bertanya pada ibunya.

"Kita jalan-jalan yuk! Sesekali. Capek cari duit mulu." Ibunya menjawab.

Asti senang, ia bisa terbebas dari tugasnya menjaga warung. Asti melihat ayahnya sudah mempersiapkan sepeda motor, adik kecilnya sudah duduk di depan.

"Ayo, cepetan!" Ibu Asti memberi perintah pada Asti.

"Asti mau di rumah aja, gak mau ikut." Ucap gadis kecil itu. Ia tak ingin ikut, tubuhnya sudah jangkung menyamai tinggi ibunya, jadi tak memungkinkan untuk berbonceng 4. Lagi pula ia ingin sekali menonton film Pendekar Rajawali dan Siluman Ular Putih, sebab selama ini ia tak diperbolehkan ibunya menonton. Biasanya bila ia menonton TV, ketika ibunya sibuk mondar-mandir melayani pembeli, ibunya akan senewen, mematikan TV, Asti sudah paham kode itu, ia akan segera membantu melayani pembeli. Kali ini kesempatan baginya untuk bisa menonton, ia sudah lama sekali penasaran dengan 2 film yang sering menjadi perbincangan anak-anak di sekolahnya.

"Ayok lah! Cepet!" Asti masih bergeming.

Ibunya tampak gemas dengannya, perempuan itu terus menyinyiri anak gadis satu-satunya untuk tetap ikut bersama mereka.

"Asti mau di rumah aja." Ia benci menyebut namanya sendiri, ia ingin seperti teman-temannya yang menyebut dirinya dengan kata 'aku'. Tapi di rumah ini, ada peraturan aneh yang mewajibkan memanggil diri sendiri dengan nama masing-masing. Bahkan ayahnya juga memanggil dirinya dengan menyebut namanya sendiri 'Adi ' jika sedang berbicara dengan istrinya. "Peraturan yang aneh. Lagian gua juga udah kelas 4 SD, kayak anak kecil aja pake nyebut nama sendiri gitu." Batin Asti kesal. Ia ingin tampak dewasa. Pernah sekali ia menyebut dirinya dengan kata 'aku' ketika sedang berkomunikasi dengan orangtuanya, ia dimarahi dan hampir saja ditampar.

"Ayok lah! Cepet! Nanti keburu magrib." Ibunya masih saja mendesaknya.

Asti merasa sangat risih, perempuan yang dipanggilnya mamak itu, setiap mengeluarkan satu kalimat dari mulutnya harus sekali dituruti. Perintahnya adalah titah raja. Bahkan untuk hal yang tak masuk nalar sekalipun, kalau tidak ia akan puasa bicara sampai berminggu-minggu lamanya. Padahal di rumah ini, Asti juga turut andil menjadi tulang punggung dengan membantu menjaga warung bila tidak ada kegiatan sekolah atau mengaji, ia sampai tidak pernah bermain seperti anak-anak lainnya, tapi entah kenapa ibunya selalu bertindak seperti raja. Bukankah seharusnya kedudukan mereka setara? Pikir Asti.

Lihat selengkapnya