Asti sedang berjalan seorang diri menuju rumahnya. Hari ini hari Rabu, sekolah Asti dibubarkan lebih awal karena ada rapat guru. Waktu baru menunjukkan pukul 10 pagi. Ia pulang seorang diri, sebab ia ingin segera sampai di rumah.
Tadi ia naik angkutan umum dari sekolah. Ia turun di pasar lalu berjalan kaki menuju rumahnya, yang hanya berjarak sekitar 100 meter. Asti sudah hampir sampai rumahnya. Dari jarak sekitar 10 meter, ia melihat jendela besar di sisi samping rumahnya terbuka. Ia mempercepat langkahnya. Setelah sampai depan pintu, benar saja pintu gantung ganda itu terbuka di bagian atasnya, sementara pintu yang bagian bawah ditutup. Sudah ada ibu Asti duduk di sofa reot sedang memangku adik perempuan kecilnya.
"Loh, mamak gak jualan?"
"Enggak. Capek, mau di rumah dulu istirahat."
"O...oh."
Asti ikut duduk di samping ibunya, ia meletakkan tas sandangnya di lantai semen yang masih kasar, kemudian mengulurkan tangan pada adik kecilnya, ia berniat menggendong adiknya itu. Namun ternyata adik bayinya tersebut menolaknya dengan mengalihkan pandangan dan merapatkan tubuhnya pada dada ibunya, kemudian bibirnya merajuk, air matanya keluar.
"Kenapa sayang? Kok nangis? Apa karna terharu liat kakak-kakaknya pulangnya barengan?" Tanya ibu Asti pada bayi mungilnya.
Ternyata adik lelaki Asti yang masih duduk di bangku kelas 3 SD itu juga baru saja sampai. Asti membujuk-bujuk adik bayinya itu, namun semakin dibujuk si bayi mungil semakin menangis. Biasanya ia yang mengurus adiknya itu. Ayahnya sudah beberapa bulan pergi dari rumah. Ayahnya pergi karena diusir ibu Asti. Ayahnya juga tampak sudah tak tahan selalu jadi pelampiasan amarah ibunya setiap saat. Akhirnya ayahnya itu pergi dan setelah itu tak pernah memberi kabar apalagi mengirim uang untuk nafkah.