RUMAH IMPIAN ASTI

Sarjana MIPA
Chapter #11

Chapter 11. MAS DIMA

Sore ini Asti berada di rumah sahabatnya. Gadis kecil itu sudah duduk manis di sofa ruang tamu. Tangan kirinya memeluk sebuah buku tulis, sedangkan tangan kanannya asyik memutar-mutar pulpennya. Ia sudah lama berjanji dengan sahabatnya untuk mengajarinya materi perkalian dan pembagian pecahan. Sofa yang Asti duduki menghadap ke televisi dan tangga menuju kamar Reka di lantai dua. Hatinya gelisah, ternyata sahabatnya lupa tentang janji temu mereka di hari ini. Ya, dirinya memang sudah mengetahui tabiat Reka yang sering keluyuran, apalagi ini masih sore hari.

"Entah dimana Reka berada sekarang, apa mungkin sedang di rumah Rezi lagi." Pikir Asti.

Tadi yang menyambut Asti di depan pintu adalah mas Dima, abang kedua Reka. Kini mas Dima sedang berada di kamarnya seusai mempersilahkan Asti masuk dan duduk. Terdengar suara mas Dima sedang menyanyikan lagu pop barat mengikuti suara sang pemilik lagu. Asti terhanyut mendengarkan suara bass abang sahabatnya ini, mengalun lembut di intro; penuh emosi di bagian verse, kuat dan ekspresif di bagian bridge; kemudian melengking tinggi saat reff tapi tetap terkontrol. Suaranya bervibra. Sangat merdu. Asti kagum, ternyata selain tampan, abang sahabatnya ini juga pandai bernyanyi. Asti tak tahu lagu apa yang disenandungkan oleh mas Dima, lagu itu sangat asing ditelinganya, namun sangat indah melodinya.

Di rumahnya, Asti biasa mendengarkan lagu-lagu dari Panbers; Pance Pondaag; D'loyd; Broery Marantika dan kadang lagu berbahasa Mandailing. Semuanya berbahasa asli Indonesia. Karena memang hanya musik-musik itu yang sering diputar orangtuanya. Terkadang Asti juga mendengarkan lagu-lagu India di TV, lagunya Sulis & Haddad Alwi yang terputar di rumah tetangganya, dan lagu anak-anak yang sering ia tonton di rumah. Jadi lagu-lagu barat sangat aneh terdengar di telinganya. Asti heran ada orang yang selera musiknya musik-musik barat, seperti juga teman-temannya di sekolah yang sering menyanyikan lagu-lagu Westlife; Aqua; Nsync dan lain-lainnya yang Asti tidak mengerti. Ayah dan ibunya sama sekali tak suka dengan lagu barat. Namun Asti berpikir, sepertinya ia kurang gaul karena didikan orangtuanya yang terlalu konservatif dan mendikte.

Sepertinya mas Dima sedang sendirian di rumah, sebab tak terlihat anggota rumah lainnya wara wiri. Sepengetahuan Asti orangtua Reka selalu pulang malam. Kedua orangtua Reka bekerja, papanya PNS di kantor PUPR, sedangkan ibunya bidan PNS di PUSKESMAS. Abang Reka yang tertua sedang berkuliah di UI. Mas Dima sendiri masih kelas 2 di SMA favorit di Jakarta Barat. Dan Reka adalah anak terakhir dari 3 bersaudara.

"Gimana, Reka udah pulang?" Tanya mas Dima yang tiba-tiba muncul di hadapannya.

Asti terkejut. Wajahnya yang sedari tadi muram menatap ke arah jalan, sontak melihat ke sumber suara.

"Belum Mas." Jawabnya.

Mas Dima duduk di sofa di hadapan Asti. Wajahnya yang tampan membuat gadis kelas 4 SD itu gelagapan.

"Emang kamu mau belajar apa sama Reka?" Tanya mas Dima lembut.

Asti menunjukkan buku paket yang sedari tadi ia letakkan di atas meja. "Ini Mas, matematika." Jawabnya.

"Tentang apa?" Tanya mas Dima balik.

"Tentang perkalian dan pembagian pecahan."

"Emang kamu gak ngerti?"

"Iya Mas, gak ngerti."

"Emang janjian sama Reka kapan?"

"Janjiannya udah dari 3 hari lalu waktu dia main ke rumahku, sore ini janjinya. Mungkin dia lupa Mas."

"Paling lagi di tempat Rezi itu."

"Iya Mas." Asti bisa maklum.

Mata Asti kembali mengamati jalan. Dia nampak putus asa. Akhirnya Asti memutuskan, "Yaudahlah Mas, aku pulang aja."

"Gak apa itu gak ngerti pelajarannya?"

"Nanti aku belajar sendiri aja di rumah."

"Ya udah sini, Mas aja yang ngajarin."

"Gak usah Mas, aku pulang aja." Tolak Asti canggung.

"Loh emang kenapa kalo Mas yang ngajarin?"

"Ga usah nanti Mas repot. Sama Reka aja besok-besok."

"Halah takut ngerepotin aku atau grogi berduaan sama aku ha...? ha...?" Alis mas Dima naik turun.

Asti tersenyum malu, pipinya yang cokelat memerah. Dia jadi salah tingkah digoda seperti itu.

"Ya udah buka!" Perintah mas Dima.

"Apanya Mas?" Asti bingung.

"Ya bukunya lah." Jawab mas Dima setengah tertawa.

Asti ikut tertawa, menertawakan dirinya yang canggung, gampang gelagapan dan terlalu kaku. Baru kali ini ia berdialog panjang dengan mas tampan satu ini. Dia mulai membuka halaman materi yang akan dipelajari kemudian menyodorkan buku itu ke hadapan si mas tampan. Mas Dima tampak mengamati lembar demi lembar halaman, mengangguk-anggukkan kepalanya, kemudian ia bergumam. Pria muda itu menyuruh Asti mendekat. Asti menuruti perintah itu, ia beranjak dari tempat ia duduk merapat ke sofa pendek yang terletak di samping kiri depan si pria muda. Mas Dima memberi gestur siap menjelaskan materi. Asti turun dari sofa, duduk di lantai, segala peralatannya ia siapkan di atas meja kaca, kemudian buku tulisnya ia buka di lembar yang masih kosong, tangan kanannya yang memegang pulpen ia posisikan di atas lembar kosong itu, bersiap mencatat.

"Pertama, kita bahas yang perkalian dulu ya. Ini contohnya 1/2 × 1/3. Yang harus dikerjain pertama adalah pembilangnya dulu. Udah tau kan yang mana yang pembilang dan yang mana yang penyebut?"

"Udah Mas."

"Kalo cara mengalikan tau kan?" Tanya mas Dima sembari tertawa kecil.

"Tau Mas." Jawab Asti yang juga ikut menyunggingkan senyum.

"Bagus. Jadi, tadi pembilang dikali pembilang, 1 dikali 1, berapa?"

"1 Mas."

"Terus penyebut dikali penyebut, berarti 2 dikali 3, berapa?"

"6 Mas."

"Pinter, jadi 1/2 × 1/3 sama dengan?"

"1/6."

"Pinter. Tuh bisa. Sekarang kita bahas rumus dasar pembagian pecahan ya."

"Iya Mas."

"Nah, soalnya sama kayak yang tadi tapi sekarang dibagi, 1/2 ÷ 1/3. Kalo soal pembagian, caranya dikali silang. Maksudnya, pembilang dari bilangan pecahan pertama dikalikan dengan penyebut dari bilangan pecahan kedua, itu nanti hasilnya dijadiin pembilang. Kemudian penyebut dari bilangan pecahan pertama dikalikan dengan pembilang dari bilangan pecahan kedua, yang ini hasilnya dijadiin penyebut. Nah, soalnya kan 1/2 ÷ 1/3, berarti (1 × 3) / (2 × 1), hasilnya 3/2. Nah 3/2 disederhanakan menjadi pecahan campuran. Tau gimana caranya menyederhanakan jadi bentuk pecahan campuran?"

"Tau Mas."

"Jadi berapa hasilnya?"

"1 1/2 Mas."

"Pinter."

Asti sibuk mencatat rumus yang diberikan beserta segala penjelasan-penjelasannya. Mas Dima menunggu sampai sahabat adiknya itu selesai mencatat.

"Sudah?"

Lihat selengkapnya