RUMAH IMPIAN ASTI

Sarjana MIPA
Chapter #18

Chapter 18. MASA SMP YANG SULIT

Asti, Ros, Rika, Yuni, Firman, Febri, Ibnu, Wahyu dan Bima dipanggil ke kantor guru. Mereka merupakan murid baru di SMP unggulan ini. Mereka baru satu bulan menjejaki kaki di sekolah impian para wali murid. Kesembilan murid itu berasal dari kelas 1-2. Yang memanggil mereka adalah wakil kepala sekolah, Bu Rizma.

Asti heran mengapa ia bisa dipanggil wakepsek yang merangkap sebagai guru BK itu, ia tidak merasa berbuat ulah. Ia masih seorang murid pendiam sama seperti di sekolah sebelum-sebelumnya. Saat kesembilan murid itu beranjak dari tempat duduk mereka berjalan ke luar kelas, semua mata murid lainnya tertuju pada mereka. Kesembilan murid itu melangkahkan kaki menuju ruang guru yang tepat bersebelahan dengan kelas mereka. Setelah mereka memasuki ruangan, bu Rizma tampak sedang berbicara dengan seorang guru di bagian belakang ruangan. Beberapa guru yang sedang tidak ada jadwal mengajar, duduk di bangku sembari mengobrol. Mata Asti menangkap satu guru wanita bertubuh gempal, bu Tia namanya. Sepasang mata bu Tia juga menatapnya. Untuk beberapa detik mereka saling bertatapan. Asti melempar senyum pada guru wanita yang merupakan adik dari pemilik rumah kontrakan yang pernah ditempati keluarga Asti semasa Asti duduk di Sekolah Dasar. Namun bu Tia tidak membalas senyuman Asti. Dahi guru bertubuh gempal itu mengernyit, seolah bertanya atas hal yang tengah terjadi pada Asti dan teman-temannya yang berada di ruangan ini.

Bu Rizma menghampiri kesembilan murid yang dipanggilnya tadi. Para murid itu berdiri di sisi pinggir kanan ruangan. Bu Rizma membuka percakapan, "Kalian tau gak kenapa kalian dipanggil kemari?" Tanyanya dengan nada yang super lembut sambil matanya menatap satu-persatu murid yang dipanggilnya itu. Beberapa murid itu ada yang menjawab tidak, beberapa lagi menggeleng. Beberapa guru yang sedang mengobrol menghentikan aktivitas mereka dan mengamati apa yang tengah terjadi para murid ini. "Kalian itu dipanggil ke sini karena orangtua kalian belum menyelesaikan tanggungjawabnya." Jelas bu Rizma masih dengan nada lembut. Para murid saling bertatapan. Mereka bingung dengan kalimat pernyataan yang diutarakan bu Rizma. Bu Rizma kembali menjelaskan, "Tanggungjawab apa itu? Yaitu membayar uang awal tahun. Kalian belum melunasi uang awal tahun. Segera sampaikan pada orangtua kalian ya pulang sekolah nanti." Para murid mengiyakan perintah itu. "Ya sudah silahkan kembali ke kelas kalian lagi." Perintah bu Rizma.

Perasaan Asti saat meninggalkan ruangan itu amat sangat tak enak. Rupa-rupanya ibunya belum melunasi uang masuk sekolah ini. Dari 45 siswa di kelasnya, hanya 9 orang yang belum melunasi uang masuk sekolah, dan dirinya merupakan salah satunya. Sesampainya di kelas, mata para siswa lainnya menatap pada mereka saat mereka melangkahkan kaki memasuki kelas kembali. Asti malu.

Kesembilannya kembali ke bangku masing-masing. Citra, teman sebangkunya bertanya pada Asti tentang apa yang terjadi. Asti hanya menjawab singkat dan lirih, "Tentang uang awal tahun." Mata Citra menatap dalam pada teman sebangkunya yang tampak murung itu. Mufti, teman sebangku Firman bertanya, "Kenapa kalian bro?" Dengan senyum terkembang dan percaya diri tinggi, Firman menjawab, "Kami itu murid pilihan bro, murid-murid terbaik." Sorak-sorai dan tawa seketika memenuhi ruangan. Asti ikut tersenyum karena ulah Firman. Hatinya kembali membaik.

Setibanya di rumah, Asti segera mendatangi ibunya dan bertanya perihal uang awal tahun itu, ia juga memberitahukan perintah ibu wakepsek tadi. Ibunya terkejut, tubuhnya yang masih dibalut mukena karena baru selesai melaksanakan salat zuhur, menjelaskan pada anak gadisnya dengan nada protes, "Loh, tapi katanya kemaren boleh dicicil sampe akhir cawu. Gimana sih kok tiba-tiba sekarang bilangnya harus dilunasin? Katanya waktu itu bagi yang gak mampu boleh dicicil beberapa kali sampe akhir cawu, ini baru satu bulan udah ditagih disuruh lunasin. Aneh banget."

"Oh, emangnya uang awal tahun itu apa sih mak?" Tanya Asti

"Ya uang pembangunan, uang masuk sekolah."

"Udah berapa mamak bayar emangnya?" Tanya Asti kembali.

"Udah 350 ribu. Sisanya 300 ribu lagi."

"Oh, berarti total 650 ribu? Ya pokoknya kata wakil kepala tadi besok harus dilunasin."

"Ah, gimana sih mendadak begini? Gak ada uang lah."

Asti mengatakan sekali lagi perintah wakepsek tadi, sambil berlalu menuju ke kamarnya. Nada ibunya sudah meninggi. Ia malas harus berdebat dengan ibunya yang keras itu.

Ibu Asti yang berasal dari kampung memang tak mengerti soal sekolah. Ia hanya berpikir bahwa kewajiban orangtua hanyalah membayar SPP, ia tidak mengerti bahwa sekolah di kota besar banyak dana yang harus dikeluarkan selain SPP. Ia menyamakan masa anaknya dengan masa ketika ia sekolah di kampung dulu.

Keesokan paginya saat hendak berangkat ke sekolah, Asti meminta uang itu pada ibunya. Ibunya menolaknya. Asti hanya menghela nafas panjang, mencoba bersabar. Satu bulan berlalu, Asti belum juga berhasil mendapatkan uang itu dari ibunya. Ia dan kedelapan temannya pun kembali dipanggil menghadap ke kantor guru. Bu Rizma kembali mengingatkan dengan suranya yang lembut dan merdu itu, "Gimana ini anak-anak? Udah disampaikan belum ke orangtua kalian kemaren yang ibu bilang?"

"Udah buuuu." Sahut para murid serempak. Beberapa ada yang hanya mengangguk.

"Kalau memang sudah, kenapa samoe sekarang belum ada kalian yang menyelesaikan? Udah dari dua minggu yang lalu loh. Semua dari kelas 1-1 sampai 1-10 ibu panggil kemari yang belum melunasi. Jadi bukan hanya kalian yang dari kelas 1-2 saja sebenarnya. Ada apa dengan kalian sebenarnya sih? Kenapa belum ada yang bergerak untuk melunasi?" Tanya bu Rizma dengan nada miris.

Para murid itu baru paham, ternyata buka hanya mereka saja yang belum melunasi uang awal tahun, masih ada murid lainnya dari kelas-kelas lain yang sama seperti mereka.

Lihat selengkapnya