Tepat tengah hari Asti sudah sampai di sekolahnya. Asti masih berbangga hati menjadi murid di SMP unggulan di kotanya itu. Hari ini ia akan mendaftar ulang. Rapor sudah dibagikan. Ia sudah akan naik ke kelas 2. Nilai rapornya di cawu 3 ini naik 1 angka dibanding cawu 1 dan 2. Ia cukup bangga dengan kerja kerasnya. Semua itu berkat murid lelaki yang bernama Rahmat. Asti sangat menyukai Rahmat sejak awal cawu 3. Rahmat termasuk siswa yang pintar. Sudah 2 cawu berturut-turut ia meraih juara 2 di kelasnya. Untuk cawu terakhir di tahun terakhir kelas 1, Asti belum tahu perolehan juara Rahmat. Dan rencananya ia segera mencari tahu.
Hati Asti sedikit gembira. Walaupun selama di SMP ia belum pernah sekalipun masuk 10 besar, tetapi nilai rapornya selalu tepat berada di bawah si pemegang peringkat 10. Artinya, ia adalah pemegang peringkat 11. Tidak terlalu buruk baginya, walaupun sudah 3 kali setelah mengambil rapor, ibunya selalu mengumpatnya karena malu anaknya tidak menjadi juara kelas. Asti dapat memaklumi itu. Biasanya di SD dulu, ia selalu menjadi juara kelas bertahan, walaupun sesekali nilainya pernah jatuh. Di SMP unggulan ini semua murid SD yang unggul berkumpul, jadi wajar bila ia kalah. Apalagi rata-rata murid di sekolah Asti itu mengikuti bimbel sepulang sekolah, mereka juga sebagian besar adalah anak orang berada jadi mereka biasa makan 4 sehat 5 sempurna. Sedangkan Asti, untuk bayar uang SPP saja ibunya sering menunda, jadi sudah pasti ia tak kan bisa ikut les tambahan di luar sekolah. Ia juga hanya anak tukang kredit, makanan di rumahnya hanya menu-menu sederhana, itupun sedikit, jadi terkadang kalau Asti pulang sekolah di malam hari kalau sedang masuk siang ia akan kehabisan lauk.
Seperti saat ini, ia sudah menunggak SPP selama 2 bulan. Untung saja, kemarin ia masih diperbolehkan untuk ikut ujian caturwulan oleh pihak sekolah. Tadi ketika masih di rumah, ia meminta uang untuk melunasi tunggakan itu, namun yang ia dapat hanya bentakan dan makian. Ia sudah lelah berjuang mengemis uang SPP selama 10 bulan terakhir ini. Yang kali ini ia sudah pasrah. Asti tahu, ia tidak akan diizinkan untuk mengetahui di kelas mana ia ditempatkan. Ia sudah jelaskan itu pada ibunya, namun karena nada suaranya tidak tegas, ibunya malah membantah dan memakinya lalu menyuruhnya segera pergi untuk mendaftar ulang.