Asti baru saja menuruni anak tangga dari lantai 2. Tubuhnya terasa sangat letih. Ia belum berencana untuk pulang ke rumah. Ia masih ingin berada di sekolah ini lebih lama lagi. Rasanya malas untuk pulang ke rumah, tak ada kedamaian yang ia dapat di sana. Ia ingin duduk dulu di bangku panjang samping perpustakaan. Duduk sembari memandang ke arah lapangan yang sudah kosong.
Selama dua bulan kemarin, kelas 2-1 dan kelas 2-2, yang merupakan kelasnya kebagian jatah masuk siang bersama seluruh angkatan kelas 1. Ruang kelas di sekolah Asti tidak cukup untuk menampung angkatan kelas 2 dan angkatan kelas 3 sekaligus ketika masuk pagi. Jadi kelas 2 diharuskan mengalah. Sebanyak 2 kelas akan digilir masuk siang per- 2 bulan. 2 bulan pertama di awal tahun ajaran baru, giliran kelas 2-1 dan 2-2. 2 bulan selanjutnya giliran kelas 2-3 dan 2-4, kelas 2-1 dan 2-2 akan kembali masuk pagi. Begitu seterusnya sampai pada kelas 2-10. Tapi karena dalam setahun ada 12 bulan, sedangkan angkatan Asti total terbagi menjadi 10 kelas, maka kelas 2-1 dan kelas Asti yaitu 2-2 akan mendapat giliran masuk siang lagi di 2 bulan akhir tahun ajaran.
Seluruh siswa kelas 2-1 dan 2-2 menganggap itu adalah kutukan. Tapi, bagi Asti itu adalah kenikmatan. Karena dengan masuk siang ia akan berada di luar rumah dalam waktu yang lama, karena rumahnya adalah neraka baginya. Di luar sini, walaupun ia hanya mengantongi uang saku Rp 2.000, tapi lambungnya jarang merasa kelaparan, mungkin dikarenakan pikirannya tenang, tak harus menghadapi omelan, teriakan atau tangisan ibu kandung yang sikapnya lebih seperti ibu tiri. Sebagai remaja yang normal, gadis itu ingin hidup tenang.