RUMAH IMPIAN ASTI

Sarjana MIPA
Chapter #24

Chapter 24. SOLITAIRE

Tadi sewaktu istirahat, Asti tak sengaja berpapasan dengan Nisa, kekasih baru Rahmat di toilet sekolah. Nisa yang merupakan adik kelas Rahmat juga ketika di SD dulu, memang memiliki paras yang cantik. Wajar bisa membuat Rahmat tergila-gila. Sampai-sampai dengan noraknya Rahmat menuliskan nama Nisa yang sebenarnya sudah berhasil ia miliki itu di atas meja belajarnya dengan tipe-x. Di meja itu Rahmat menuliskan betapa kagumnya ia akan kecantikan Nisa. Yang anehnya bukan hanya nama Nisa saja yang tertulis, tapi ada nama 3 perempuan lain juga yang seangkatan dengan Nisa. Lewat tulisannya, Rahmat menyatakan kekaguman pada 4 perempuan itu dan ia sangat ingin memiliki keempatnya. Sungguh miris hati Asti melihat tulisan itu di meja Rahmat yang kini menjadi meja Asti.

Tadi di toilet, saat Asti masuk, bertepatan dengan Nisa yang ingin keluar. Kebetulan sekali saat itu di dalam toilet hanya ada mereka berdua, jadi Asti bisa dengan jelas memandangi wajah Nisa tanpa ter-distract oleh apapun. Kini wajah ayu Nisa terpatri jelas dalam kepala Asti, karena jarak mereka yang begitu dekat tadi. Bentuk wajahnya oval, alisnya cukup tebal, kulit wajahnya bersih tanpa ada noda dan jerawat, hidungnya bangir, kulit hidungnya sangat mulus tanpa komedo seperti perosotan, bibirnya tipis, dan dagunya agak lancip. Hari ini mereka memakai seragam muslim, baju putih panjang berpadu dengan rok span putih panjang dan jilbab putih. Nisa tampak tak bisa mengenakan jilbab dengan baik, terlihat jilbabnya tak sempurna menutupi rambutnya, juga ujung-ujung jilbabnya diikat sembarang ke belakang lehernya. Saat berpapasan, matanya yang berbentuk seperti almond itu sedikit mendelik pada Asti. Asti heran melihatnya, tapi mungkin saja karena ia begitu lekat menatap wajah gadis cantik itu, walaupun sambil lalu. Mungkin juga karena tatapan Asti terlihat sangat tajam. Padahal Asti hanya ingin memperhatikan lebih jelas detail wajah cantik itu. Walau Asti agak kesal padanya karena Nisa berkesempatan memiliki pujaan hati Asti, tapi Asti tidak bermaksud untuk membencinya. Malah Asti ikut mengagumi wajah cantik Nisa.

Hari-hari selain hari Jumat, ia biasa melihat Nisa mengenakan setelan seragam pendek, sehingga Asti bisa melihat tubuhnya lebih detail lagi, walaupun hanya dari jarak yang cukup jauh. Tubuhnya mungil, rambutnya lurus sebahu, warna kulitnya tidak putih tapi agak cokelat, senyumnya manis dan ia mengenakan kacamata dengan frame berwarna hitam. Sungguh sangat manis. Pantas saja Rahmat buru-buru menjadikannya kekasih saat Nisa baru saja masuk SMP ini.

Asti jadi berpikir, dulu sewaktu SD mereka 5 tahun berada di sekolah yang sama, berstatus kakak kelas dan adik kelas, apakah Rahmatnya sudah naksir lama pada Nisa? Ah, hati Asti jadi ngilu karena memikirkannya. Angkot yang ditumpangi gadis pemurung itu sudah sampai di pool-nya. Ia segera turun dan membayar ongkos pada supir. Kemudian menyeberangi jalan raya dan menunggu angkot berikutnya yang akan mengantarnya sampai ke perempatan lampu merah Ciledug. Setelah itu ia masih harus naik angkot 1 kali lagi untuk sampai ke rumahnya. Hari ini sungguh panas, ia mengusap keringat di wajahnya. Ia bisa membayangkan wajahnya seperti apa ketika berpanas-panasan di bawah terik matahari seperti ini. Ia tak pernah berani bercermin, karena malas melihat wajahnya yang buruk rupa. Kini, ia percaya pada perkataan ibunya sejak ia masih duduk di kelas 1 SD. Saat itu seringkali ibunya mengatakan bahwasanya Asti sangat jelek sehingga bisa jadi di masa depan tak akan ada laki-laki yang akan menyukainya. Memang benar demikian adanya yang terjadi dihidup gadis itu sekarang, ia tumbuh menjadi remaja yang buruk rupa dan pemurung. Hari ini sudah sudah genap 4 bulan ia duduk di bangku kelas 2 SMP. Masih ada waktu beberapa tahun lagi untuk mencapai usia dewasa. Ia menjadi penasaran dengan masa depannya, apa benar ramalan ibunya itu. Tapi diam-diam ia berharap ramalan buruk itu bisa benar-benar terjadi, ia tidak merasa terusik dengan ramalan buruk itu, sebab ia memang tidak ingin laku, ia tidak ingin menikah, sebab berkeluarga itu merepotkan, ia sudah lama menyaksikannya di hidup ibunya. Gadis itu mau hidup sendiri saja selamanya. Ia yakin hidup menyendiri itu asyik, tak banyak yang dipikirkan, tanpa drama juga, seperti yang ia jalani kini. Ia tak punya banyak teman sebab tak ada yang ingin berteman dengannya. Tapi ia merasa tetap baik-baik saja.


Lihat selengkapnya