RUMAH IMPIAN ASTI

Sarjana MIPA
Chapter #21

Chapter 21. Uang SPP

Hari ini hari pertama masuk kelas dua. Asti berhasil mengetahui kelasnya, ia terdaftar sebagai murid di kelas 2-2. Tadinya ia sudah cemas akan mondar-mandir mencari di kelas mana ia terdaftar karena ia telat membayar sekolah selama 3 bulan. Tapi, setelah ia melihat selembar kertas HVS yang ditempel di masing-masing kaca kelas, namanya tertulis di deretan ke delapan, yang mana kertas itu tertempel di kelas 2-2. Hatinya lega.

Ia langsung mendapat teman sebangku, yang bernama Ria. Mereka berdua duduk di barisan paling depan, dekat pintu. Asti duduk di pojok dekat tembok. Jam pertama dimulai dengan pelajaran Bahasa Indonesia. Kebetulan guru tersebut adalah sang wali kelas. Setelah selesai memberi salam pada guru dan berdoa, wakil kepala sekolah, bu Rizma masuk ke kelas Asti. Tanpa memberi salam dan menyapa guru yang sedang duduk di kursinya, bu Rizma langsung bertanya dengan nada mengintimidasi sambil mengedarkan pandangan pada seluruh siswa di kelas, "Mana yang namanya Asti Sunandar?" Semua mata tertuju pada bu Rizma, Asti yang duduk tepat berhadapan dengan bu Rizma langsung mengangkat tangannya. Wajah bu Rizma tampak agak terkejut, ternyata murid yang dicarinya tepat berada di depannya, ia pun langsung menghardik Asti, "E eh, kamu tuh belum bayar uang SPP, dari bulan Mei, ini udah pertengahan bulan Juli, berarti udah 3 bulan kamu nunggak. Kok bisa kamu masuk kelas, siapa yang ngasih tau kamu bakal ada di kelas mana?" Kalimat bu Rizma terhenti, itu artinya ia memang bertanya pada Asti. Asti menjawab dengan terbata-bata, "Dari kertas absen yang ditempel di kaca kelas bu." Jawabnya lirih. "Loh, emangnya ada nama kamu terketik di situ? Harusnya kamu itu gak boleh masuk, kamu gak berhak masuk kelas karena udah 3 bulan lo. Harusnya kamu selesaikan dulu itu baru bisa masuk kelas." Terang bu Rizma dengan nada tinggi. Asti menganggukkan kepalanya tanda mengerti, pandangan bu Rizma pun beralih pada sang wali kelas sambil berkata bahwa memang sudah peraturan sekolah seperti itu, harus tegas pada murid-murid yang tidak menjalankan kewajibannya. Sang wali kelas menanggapinya dengan tersenyum saja, kemudian bu Rizma membalikkan badan kembali ke ruangannya.

Asti dengan ragu menyapu pandangan pada teman-teman sekelasnya. Ternyata semua mata sedang menatap padanya. Termasuk sang wali kelas. Asti malu, ia menunduk. Bukan salahnya sebenarnya. Malam sebelum hari ini, ia sudah mengingatkan ibunya, namun ibunya dengan nada tinggi menolak untuk memberikannya uang SPP itu. Ia semakin menundukkan kepalanya. Dalam hatinya ia terus mengutuki kejadian hari ini. Hari pertama masuk sekolah yang seharusnya disambut dengan semangat baru, malah harus mengalami kejadian memalukan ini. Ia malu, ia terus memikirkan bagaimana ia bisa menatap teman-teman barunya setelah kejadian hari ini.

Lihat selengkapnya