Hari sudah mulai sore, tetapi langit masih sangat cerah. Udara yang panas belum selesai menyelimuti kehidupan di rumah papan lapuk milik keluarga Asti. Tiga hari yang lalu Asti mendengar ibunya curhat sambil menangis pada tetangganya. Selesai curhat, Asti memperhatikan kulit di sekitar mata ibunya bengkak dan merah, juga mood ibunya menjadi tidak stabil, wajahnya selalu menekuk. Hari ini wajah ibunya kembali seperti biasa, maka ia pun memberanikan diri untuk mencari tahu apa sebenarnya yang dicurhatkan ibunya pada tetangganya itu.
"Mamak kenapa kemaren nangis cerita sama kak Minda?" Tanya Asti pada ibunya.
"O oh, itu, nenekmu nyuruh aku cerai sama ayahmu." Jawab Ipah, ibu Asti.
"Kenapa? Kok tiba-tiba dia nyuruh mamak cerai?"
"Iya, kan waktu mamak pulang ke sini dua tahun lalu, yang waktu kita masih tinggal di Jakarta, yang waktu itu mamak pulang karna mau ngurus daftar ulang abangmu ke SMA. Jadi kan, ayah abangmu itu datang ke rumah nenek bertamu. Kan mamak waktu itu numpang tidur di rumah nenekmu. Nah, ayah abangmu itu ngomong kalo mamak lah istri dia yang paling dia suka, yang paling bener lah di mata dia. Trus ada kayak omongan dia mau balikan sama mamak. Nenek tau itu. Nah nenek nyuruh mamak untuk minta kejelasan ke ayah abangmu kalo bener jadi aoa enggak dia mau balik sama mamak. Makanya nenek nyuruh mamak cerai-in ayahmu." Jelas Ipah panjang-lebar ke anak gadisnya.
"Ya mana mungkin lah mak tu laki mau balikan, dia kan udah punya istri lagi sekarang." Bantah Asti.
"Ya mungkin aja. Orang kemaren terang-terangan ngomongnya begitu kok."
"Jadi istrinya yang ini mau dicerai-innya? Gak mungkin lah."
"Loh, dulu pun aku ditinggal karna dia selingkuh sama perempuan lain kok. Jadi ya kenapa enggak mungkin dia bisa balikkan sama aku. Ya mungkin-mungkin aja." Bantah Ipah lebih keras.