Rumah Impian Senja

Kusnawati
Chapter #1

Bab 1



Siang itu udara teramat panas. Agustus sudah berlalu dan sepoi angin bertiup nyaris melelapkan mata bagi siapa saja yang duduk dibawah pohon asam jawa. Pohon tinggi menjulang yang tegak berdiri persis di tengah desa Sendang. Salah satu desa terpencil diujung Jawa Tengah. Hanya berjarak dua ratus meter sudah menginjakkan kaki di Jawa Timur. Di desa ini hanya ada delapan rumah dan semua masih tergolong keluarga. Rumah berbentuk limasan khas Jawa, atap genteng serta beberapa diantaranya masih memakai bambu selain papan kayu sebagai temboknya. Listrik belum masuk ke kampung di era delapan puluhan. Tempat hiburan tidak ada kecuali layar tancap keliling yang hanya mampir semingguan di lapangan sebelah desa. Itu pun setahun sekali, habis masa panen sebelum acara tujuh belas Agustusan. Mungkin ijin itu  diberikan penguasa desa untuk hiburan rakyatnya yang memang hampir dipastikan golongan menengah ke bawah. Filmya? Yang wajib diputar film G30S/PKI selain Suzana, Janur Kuning dan satu dua film barat. 

Sudah dekat dengan sungai, depan rumahku hamparan sawah yang terkadang tanaman tebu rakyat dari pemerintah. Kalau malam sepi, hanya ada suara jangkring dan belakang diantara pohon rindang. Ada dua jalan masuk menuju kampung kami. Depan rumahku yang berujung di sungai. Ada empat deretan rumah yang searah dengan rumahku disisi depannya. Sementara di belakang rumahku, dimana pohon asam tumbuh subur  memayungi tanah kering disekitarnya juga ada empat rumah. 


Namaku Senja, anak bungsu dari tiga bersaudara. Tetapi aku seperti hidup sendirian tanpa mengenal dekak dua kakakku. Karena sejak SMP mereka sudah pergi ke luar kota untuk sekolah. Kadang sebulan sekali pulang ketika jatah uang saku habis atau pulang sebelum waktunya karena ada kegiatan yang memerlukan tambahan biaya. Aku baru masuk kelas satu SD tahun ini. Bapakku seorang petani dengan beberapa hektar sawah. Kata teman-temanku, Bapakku kaya karena kalau ada hajatan selalu diberi punjungan( hantaran makanan dalam rantang yang diberikan sebelum hajatan dimulai. Biasanya dua atau sehari sebelum hari H hajatan). Hanya para perangkat desa(pak Lurah dan jajarannya), tokoh masyarakat dan orang-orang kaya yang akan dipunjung. Orang biasa atau tetangga hanya undangan kertas bahkan sebatas lisan. Itulah versi orang kaya di kampungku, yang aku sendiri masih bertanya-tanya, masak orang kaya kok tidak punya sepeda motor atau mobil seperti yang kulihat di TV hitam putih rumahku.

Lihat selengkapnya