Bapakku memang terlihat seperti kebanyakan laki-laki kampung yang hari-harinya dihabiskan di sawah. Kulitnya legam karena selalu terkena terpaan sinar matahari, mulai sejak sang surya menampakkan sinar keperakan hingga sampai mata menyipit ketika menengadah ke atas cakrawala. Pun ketika lepas suara gema dari masjid untuk memanggil hamba-hanyaNya sejenak menghadap sambil melepas penat, Bapakku dengan binar semangat dikedua bola matanya, mengayuh ringan sepeda kebanggaannya menuju tempat cita-cita dan harapan kesejahteraan keluarga digantungkan. Hamparan sawah puluhan hektar terbentang di sekitar kampung kami, menyisakan sudut kecil rumah- rumah penduduk yang mengapit diantara sisi-sisinya. Sawah baginya bukan sekedar tumbuhnya bulir padi yang siap menegakkan tulang dan keyakinan masa depan, tapi disana jutaan rangkaian doa terus dipanjatkan agar semua lancar hingga waktunya panen tiba.
“Bapak kan yang punya sawah, kata orang juragannya, bosnya. Tapi kenapa rajin pagi-pagi berangkat ke sawah? Pulang sebentar untuk salat terus kemudian berangkat lagi sampai sore. Menyuruh Bapaknya Jono atau Yanto kan bisa, Pak? “ protesku suatu saat
karena melihat Ayah bolak balik ke sawah, tidak seperti tetanggaku lainnya yang biasa menghabiskan waktu dirumah bersama anak-anaknya.
“Nduk, punya sawah banyak atau hanya menjadi buruh, buat Bapak itu tidak penting. Karena ibarat kita sedang merawat masa depan keluarga, sawah ini menjadi urat nadi kehidupan kita. Kalau Bapak santai dan tidak mencurahkan waktu disitu, apa yang bisa dibanggakan dari seorang petani? Pada akhirnya semua tertuju pada hasil panen. Ketika pembeli gabah kita tersenyum puas setelah membawa pulang keuntungan. Dan tentu saja Bapak sebagai ujung tombaknya akan jadi acuan banyak orang. Bagaimana bisa mendapatkan hasil yang melimpah di banding yang lain? Menjadi petani itu berlatih kesabaran, ketekunan, keuletan serta pantang menyerah. Dari mulai proses memilih benih, menyemainya, menanam pada lahan hingga kita bisa memetik hasilnya. Itu perlu ikhtiar yang tidak mudah. Dan ketika tidak sesuai keinginan kita saat panen raya, kita tidak pernah menyerah untuk terus menyemai kembali” panjang lebar Bapak menerangkan sambil tangannya yang kasar mengasah arit(senjata tajam untuk memotong padi saat panen). Bunyi gesekkan arit dan batu kali terdengar seperti irisan pedang ditelingaku, perih meski tidak berisik kedengarannya.
“Berarti Bapak tidak percaya dengan orang lain karena semua tetap dikerjakan sendiri? “
“Bukan seperti itu juga. Adakalanya kita memberikan tanggung jawab ke orang lain tapi tidak lepas tangan. Suatu ketika kita harus terus memantau dan turun langsung. Mereka tidak merasa terus diawasi tetapi justru ditemani oleh pemilik. Nanti suatu saat jika kamu seorang bos atau pemimpin, kamu pasti akan melakukan hal yang sama.”
“Memang ada ya pak bos perempuan?”
“Ada, Nduk. Kamu nanti salah satunya” kalimat Bapak seperti rapalan doa buatku, yang kelak memberikan pelajaran berharga sepanjang hidup.
Bapakku selain menjadikan bertani sebagai satu-satunya peluang untuk meneruskan hidup anak keturunannya, beliau mempunyai kebiasaan yang sangat jarang dimiliki lelaki seumurannya. Berburu. Ya, entah sejak kapan tepatnya kegemaran berburu ini mulai ada. Seingatku waktu aku sudah bisa berbicara, aku sering melihat Bapak membersihkan senapan berburunya. Sebuah senjata laras panjang seperti yang kulihat di film janur kuning, bahannya hampir semua dari kayu. Hanya sedikit yang berornamen besi, pelatuk dan penyangga senapan. Oli yang dioles kain bersih menjadi lap senapan hingga mengkilap warnanya seperti baru keluar dari toko. Kalau Bapak sudah melakukan ritual seperti itu biasanya sebentar lagi akan berburu ke hutan daerah Pakah yang jaraknya sekitar lima kilo meter dari rumah. Kalau Bapak sudah memanggul senapan kesayangannya, bagiku laksana pahlawan habis pulang perang. Gagah sambil menenteng burung-burung yang habis meregang nyawa untuk menjadi hidangan terlezat di meja makan kami layaknya lebaran tiba. Itu juga mungkin yang membuat Yadi takut berurusan dengan Bapakku.
“Kalau lihat Bapakmu itu, aku membayangkan prajurit yang siap menembak mati musuh. Menyeramkan, Senja” katanya suatu ketika saat kami mau merencanakan aksi berenang ke sungai.
“ Bapakku tidak sekejam itu, tahu. Memangnya kamu siapa?Musuh bukan apalagi burung buruan. Tak enak juga tubuhmu dimakan.”
Biasanya setelah musim tanam padi Bapak jarang ke sawah. Hanya para pekerja yang mulai memupuk, membuang rumput. Biasanya dikerjakan antara empat hingga enam orang. Tergantung ketersediaan tenaga yang menganggur. Karena kalau musim rumput merajalela di sawah, pekerja sibuk dari sawah satu ke sawah lainnya. Pemilik lahan kadang tidak kebagian jadwal sampai mengerahkan seluruh anggota keluarga untuk menghindari rumput cepat menunggu dan berkembang biak hingga mengalahkan pertumbuhan padinya. Selain Itu juga bisa menghemat biaya perawatan. Jadi baru kutahu kalau semakin banyak anak akan semakin menguntungkan. Untunglah dulu belum ada komnas HAM. Bisa kena pasal mempekerjakan anak dibawah umur kalau lihat anak-anak diturunkan ke sawah semua untuk bekerja meski sebatas mencabut rumput.
“Aku ikut ke sawah ya, Pak? Masak anak petani belum pernah membantu sedikitpun. Mas Imron saja sering Bapak suruh ke sawah” protesku suatu ketika saat melihat kakak tertuaku ikut dibonceng Bapak ke sawah.
“Kamu anak perempuan, masih belum sekolah juga. Lebih baik bantu ibumu sana menyiapkan masakan di dapur. Kalau sudah besar baru boleh ikut.”