Memasuki usiaku kelas empat, ada kabar adanya proyek bendungan Bengawan Solo yang lewat depan rumah. Katanya nanti sawah akan dialih fungsikan menjadi saluran air untuk mengairi sawah sepanjang aliran sungai tersebut sampai tembus ke Jawa Timur melintasi sungai Sawur. Aku sedikit berkerut, kalau nanti melewati sungai Sawur, akan seperti apa bentuk bendungannya? Apakah sungai ditutup atau bagaimana model jembatan diatasnya? Pastilah megah seperti jembatan yang dibuat diatas sungai Bengawan Solo dekat kebun Binatang Jurug, dikota Solo itu. Aku beberapa kali melewati jembatan itu ketika naik bus menuju tempat kos kakakku. Terkadang Bapak dan ibu mengirim beras kesana dengan mengajakku. Kalau melewati jembatan Jurug pasti aku akan bersiap menempelkan mata ke jendela agar bisa melihat kemegahan jembatan dan besarnya sungai yang mengalir di bawahnya. Mungkin apa seperti itu jembataannya? Entahlah, aku tak sampai untuk memikirkannya.
“Senja, kau dengar tidak, di depan rumahmu akan dibangun jembatan besar. Kita boleh main di jembatan tidak, ya? Terus terjun ke sungai. Pasti menyenangkan sekali” kata Jono suatu siang saat kami berkumpul di bawah pohon asam. Dia memang paling banyak aksi kalau urusan mandi di sungai. Segala macam gaya menyelam dilakukan. Cuma memang belum pernah gerakan melompat dari ketinggian.
“Aku mau pakai baju yang ada sayapnya. Sepertinya belum pernah ada yang bergaya seperti kelelawar” sahut Yadi sambil memeragakan gerakan kelelawaet terbang.
“Aku tetap bawa gedebog pisang. Menaikkinya terus terbang dari jembatan. Mirip nenek Lampir tidak, ya” Yanto tak mau kalah bersaing dalam lomba aksi gaya.
“Kubayangkan nanti Senja duduk-duduk nungguin baju kita diatas jembatan. Lihat, pasti Senja tersedu melihat kita berenang dibawah” Tono meletakkan kedua telapak tangannya dimata sambil mengucek, persis anak yang sedang merengek. Sontak Jono, Yanto dan Yadi tertawa terbahak sampai memegang perut.
“Awas saja kalian. Nanti kalau musim panen padi tidak aku ajak ke sawah ngambil ayam ingkung sesaji. Semua buatku” sungutku sambil pergi meninggalkan mereka yang terus terpingkal-pingkal.
Dan benar saja, pertengahan tahun 1990 para pekerja proyek bendungan mulai berdatangan. Lelaki tanggung, remaja, dewasa bahkan ada yang sudah tua pun ikut. Ada yang dari Purwodadi, Grobogan, Salatiga. Hampir seratusan orang. Mereka menginap di rumah-rumah tetanggaku. Kenapa tidak dirumahku? Mungkin segan karena rumahku agak bagus dibanding yang lain. Lantainya sudah ubin yang mengkilap karena rutin dipel dengan ampas kelapa setiap seminggu sekali. Kata ibuku, mengepel ubin dengan ampas kelapa membuat lantai awet dan bisa untuk berkaca. Padahal yang aku tahu ibuku tidak mau membeli cairan pewangi untuk mengepel lantai. Pasti sayang uangnya. Kalau yang lain masih batu bata, batako bahkan ada yang berupa tanah.
“ Nanti kalau Lik Mardi, Yu Sarmi atau yang lain tiba-tiba berkunjung, mereka mau ditaruh dimana? Biarkan saja para pekerja itu tinggal sementara di rumah tetangga. Jangan dirumah kita” kata Bapak kudengar ketika ibu mau menampung rombongan para pekerja.
“Tapi lumayan lho pak sewanya. Bisa utuk tambah-tambah uang belanja ibu. Kan kalau panen mesti nunggu empat bulan. Ini seminggu sekali kita tarik uang sewamya setelah mereka gajian. Uang jajan Senja juga bisa lebih banyak. Tolonglah Pak dipertimbangkan lagi” rayu Ibu pantang menyerah.
“Tidak, Bapak tidak mau banyak laki-laki asing di rumah ini. Bapak tidak rela mata jelalatan mereka memandang Ibu. Senja anak perempuan, kita harus menjaganya dengan baik dari pergaulan lelaki yang tidak jelas bibit, bobot dan bebet nya.” Aku terkesiap mendengar alasan utama kenapa Bapak tidak mau menyewakan rumah. Alasan keamanan dan marwah perempuan yang menjadi tanggung jawabnya. Aku bangga punya Bapak seperti itu. Dan aku yakin Ibu pun tak kalah terharu. Lelaki pendiam yang sudah memberinya tiga anak ternyata begitu perhatian hingga sedetail itu.
Sementara itu para mandor dan pimpinan proyek membuat rumah semi permanen di ujung dusun, tepatnya di pertigaan jalan. Kurang lebih ada 6 orang yang tinggal. Pak Edi, sang pimpinan proyek. Orangnya kurus, berkaca mata minus dengan tipikal serius memancar dari wajahnya. Raut muka jarang tersenyum membuat orang lain segan untuk bertegur sapa. Kadang aku sengaja lewat depan kantornya, ingin tahu apa yang meraka lakukan didalam sana. Beberapa kali terlihat semua berbicara bersama dalam ruangan bagian depan. Mungkin sedang merencanakan kapan proyek diselesaikan, bagaimana pengawasannya. Rumah itu disekat menjadi empat bagian. Ada ruang tamu, tempat menaruh barang, tempat makan dan dapur. Aku pernah ikut melongok ke rumah itu ketika Bapaknya Jono masuk kesana membereskan peralatan setelah rumah usai dibangun. Rumah itu memang berdiri ditanah Bapaknya Jono.
“ Bos, kita perlu padatkan tidak waktunya? Kalau dua hingga tiga tahun apa tidak kelamaan?” salah satu mandor bertanya kepada pak Edi.
“Kita lihat nanti di lapangan. Misalnya mereka cekatan dan bisa diandalkan, kita bikin shif pengerjaan. Estimasi waktu bisa kita maksimalkan” pak Edi terlihat serius menjawab sambil membenarkan letak kacamatanya.
“Benar, bos. Harus ada shif malam. Sekalian untuk mengawasi. Khawatir nanti barang-barang proyek hilang jika dibiarkan diluar dan saat malam hari kalau tidak di planning dari sekarang. Kalau kita bergantian berjaga, tidak sanggup saya” mandor yang lain menimpali.
Akhirnya depan rumahku berubah seperti ikon kota baru. Saat semua sawah diratakan dengan mesin douzer, para warga berkumpul melihat dari dekat. Bagaimana petakan sawah mereka yang selama ini ditanami padi dan sesekali ditanami pohon tebu itu tidak tersisa pematangnya. Yang ada hanya hamparan tanah rata berhektar-hektar luasnya. Teman-temanku melihat takjub truk-truk pengangkut pasir dan batu. Ketika material itu ditumpahkan dari truk dengan sistem hidrolik, semua tercengang. Betapa canggihnya kendaraan saat besar itu. Tenaga manusia sudah tidak dibutuhkan untuk menurunkan bahan material proyek. Semua dilakukan oleh mesin. Gumaman kekaguman sesekali aku dengar dari mulut bapak tua yang berbincang didekatku.
“Wah, kok bisa ya truknya keatas bawah sendiri. Kira-kira dimana letak tombolnya. Nanti kalau sudah besar anakku pasti gagah sekali menjadi sopirnya” kudengar seorang lelaki berbincang dengan temannya, tak jauh dari tempatku berdiri. Matanya tak lepas memandang truk hidrolik yang hilir mudik di depannya.
“Iya, bagus itu. Kalau anakku nanti yang jadi mandornya saja. Oh bukan itu, seperti Bapaknya yang berkaca mata. Sepertinya dia bos proyeknya. Dari tadi aku lihat nunjuk sana sini ke pekerja. Pasti uangnya banyak kalau jadi bos” balasnya tidak mau kalah. Begitu mendengar kata bos, aku teringat ucapan doa Bapakku yang kelak aku bisa jadi seorang bos. Jadi seperti itu ya penampilan bos itu. Berkacamata, tidak ada senyum diwajah dan suka berteriak kalau bawahannya salah ikuti perintah. Itu yang aku lihat dari sosok pak Edi ketika memarahi salah satu mandornya saat rapat yang tak sengaja aku dengar ketika lewat depan kantor itu. Malas sekali kalau jadi bos seperti itu. Aku mau minta doa yang baru saja dari Bapak, aku tidak mau jadi bos.
Anak-anak tak kalah riuh bersorai ketika truk-truk itu satu persatu menurunkan pasir dan batu. Kadang saling berlomba menghitung, pada hitungan keberapa truk itu berhasil memposisikan baknya tegak lurus ke tanah sehingga semua yang didalamnya meluncur sempurna.