Rumah Impian Senja

Kusnawati
Chapter #5

Bab 5


Bulan Juli datang membawa angin kemarau yang panas. Debu beterbangan ketika angin menyambar jalanan yang masih berbatu dan berpasir. Pohon-pohon tectona grandis yang meranggas di pinggir jalan menjadi pertanda bahwa teriknya matahari telah meluluhlantakkan kehidupan daunnya demi melanjutkan kehidupan yang baru. 


Hamparan padi puluhan hektare sudah menampakkan bulir-bulir yang nyaris menguning dan merunduk, siap untuk dipanen. Sementara kawanan burung lonchura leucogastroides tampak bergerombol dari petak sawah satu ke petak yang lain. Paruhnya yang kecil dengan lincah mengambil bulir-bulir padi yang menggoda, tak peduli bagaimana para petani tengah menunggu hasil dari perjuangan mereka empat bulan kemarin. Meskipun banyak berdiri orang-orangan sawah ditengah, burung-burung itu tak bergeming untuk pergi menjauh. Sepertinya mereka sudah hafal kalau itu hanya boneka tak bergerak, tak akan membunuhnya seperti peluru senapan pemburu. Kecuali jika orang-orangan sawah itu digerakkan oleh tali yang mengikatnya dari ujung sawah bagian atas ke bagian bawah, maka bunyi kaleng yang berisik melebihi petasan tahun baru, akan membuyarkan keasyikan para burung dalam memenuhi hajat perutnya. 


Panen padi bulan Juli biasanya menjadi panen raya penuh kebahagiaan para petani. Padi yang ditanam dan dirawat dengan sepenuh jiwa raga menghasilkan keuntungan melimpah. Empat bulan pengairan yang cukup, perawatan yang baik serta hama yang tak seberapa, membuat buliran padi lebih berisi dan berumpun banyak. Para pembeli padi pun tersenyum gembira, keuntungan berlebih dan bisa membeli kendaraan baru. Para petani pun tak kalah tertawa. Rumah-rumah mereka terasa lebih hangat. Sang ibu bisa memasak sedikit lebih enak dibanding musim padi sebelumnya. Anak-anak akan diajak ke pasar, memilih baju kesukaan yang selama setahun hanya mendapat dua kali kesempatan. Menjelang lebaran dan panen bulan Juli. Dan tentu saja semua penduduk kampung menantikan hiburan bersama, layar tancap keliling awal Agustus nanti. 


“Senja, kapan kamu ujian kelulusan?” tanya Bapak ketika aku sedang menyalakan lampu teplok, lampu dari minyak tanah yang ada kaca penutup dan berbentuk bulat. Setiap sore sebelum maghrib tiba, sudah menjadi agenda rutinku untuk menyiapkan lampu teplok. Di tempatkan di dapur, ruang tengah, ruang tamu serta teras. Lampu kecil bersumbu dengan beberapa buah tali kain menjulur ke dalam kaca bening sebagai wadahnya. Agar bisa menyala, minyak tanah menjadi dasar kehidupan api. Kaca tipis berbentuk bulat ditempatkan di tengah api sebagai penutup wadah kaca, diapit seng tipis agar tidak jatuh. Dibersihkan kaca penutupnya terlebih dahulu, dipastikan minyak tanah cukup untuk semalam atau tidak. Kalau minyak tinggal setengah wadah, harus segera melapor Ibu untuk membeli di warung dusun sebelah. 

“Dua minggu lagi, Pak. Memangnya kenapa?” tanyaku balik sambil membereskan kain bekas membersihkan kaca lampu.


“Bapak berjanji, kalau nilai ujian kelulusanmu bagus, Bapak mau membelikan sate kambing ditempat bu Sowo. Berdua saja.” 


“Beneran Ppak aku mau dibelikan sate? Tidak bohong, kan?” tanyaku untuk memastikan meski aku tahu Bapak tidak pernah sekalipun berbohong pada kami, anak-anaknya. Sedikit galak iya, ketika kami membandel. Tetapi kalau untuk urusan kebohongan, pantang bagi Bapak melakukannya.


“Aku berjanji Pak, akan terus menjadi juara saat ujian kelulusan nanti.”


“ Bagus, kamu harus berjuang. Jangan seperti Bapak yang dulu tidak tamat sekolah. Kamu harus jadi Sarjana, Nduk.”


“Iya, Pak. Senja janji akan melunasi impian Bapak dulu. Bapak tidak bohong, kan?”


Lihat selengkapnya