Rumah Impian Senja

Kusnawati
Chapter #6

Bab 6

Liburan sebelum kelulusan SD menjadi salah satu liburan yang dinantikan  oleh semua anak-anak kelas enam. Maklum, sekolah kami cukup terpencil, berada di antara puluhan hektare sawah, yang muridnya adalah anak para petani. Liburan dipakhir pendidikan yang sudah ditunggu selama enam tahun begitu istimewa layaknya makan ayam panggang jika musim tanam padi atau masa panen tiba. Ayam panggang untuk sesaji di sawah. Setelah selesai upacara sesaji, kami para anak kecil yang sudah menunggu di pinggir pematang, akan dengan sigap mengambil bagian yang sudah disisakan oleh mbah Parjo, sang pengantar doa sesaji. 


“Minggu depan kita akan berwisata ke Sangiran. Nanti berapa biaya yang harus dibayarkan, pak guru akan memberi surat pengumuman untuk  orangtua kalian. Ada yang ingat Sangiran itu dimana dan tempat apa?“ pak Samijo, wali kelas kami tiba-tiba mengajukan pertanyaan. Kami yang sudah letih berpikir karena baru saja melewati ujian Ebtanas hanya saling pandang, diam dan tak berani mengeluarkan sepatah katapun. Entah karena tidak tahu, pura-pura berpikir atau malas membuka ingatan tentang pelajaran yang seolah telah usai kami enyam. Jono dan Yanto memberi isyarat mata padaku untuk menjawab. Karena kalau satu kelas tidak ada yang mau mengacungkan tangan dan menjawab-meskipun salah- pak Samijo tidak akan memulangkan kami meski bel sekolah telah usai berdering. 


“Hayo, siapa yang tahu? Tidak ada yang mau menjawab? Pak guru hitung sampai tiga, kalau semua masih mengunci mulut, tahu sendiri akibatnya, kan?”


“Satu…  dua…  tii.. “ 


“Lokasinya ada di kecamatan Kalijambe Kabupaten Sragen, berbatasan dengan kabupaten Karanganyar Jawa Tengah. Sangiran  merupakan tempat disimpannya situs manusia purba” jawabku tergesa sebelum hitungan ketiga selesai diucapkan pak Samijo. 


“Betul. Sangiran adalah nama wilayah yang terdapat museum situs prasejarah.  Kecamatan Kalijambe merupakan satu diantara dua puluh kecamatan yang ada di kabupaten Sragen. Awalnya disebut Balai Penyelamatan Sangiran, yang didirikan pada tahun 1974. Meskipun survey tentang situs Sangiran sudah dimulai pada tahun 1926 dan baru ditemukan jejak manusia purba pada tahun 1934. Setelah itu proyek penelitan yang melibatkan kampus UGM dimulai, bekerjasama dengan tiga peneliti yaitu Teuku Jacob, Sartono Sastromidjojo dan R. P Sorjono. Pada tahun 1977 melalui keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Sangiran ditetapkan sebagai kawasan cagar budaya” jelas pak Samijo dengan rinci. Siang yang terik, yang seharusnya kami sudah terbebas dari segala ilmu, justru dipaksa menelan pengetahuan baru. “Coba jelaskan apa saja isi museum itu?”


Semua kembali hening. Makin siang, perut yang mulai keroncongan sudah tidak bisa diajak kompromi untuk sedikit mengingat sejarah apapun. 


“Yang jawab selain Senja. Gantian. Muridnya Bapak kan bukan hanya Senja saja. Percuma juga kemarin ikut Ebtanas. Jangan-jangan nilai kalian semua cukup bagus itu hasil menyontek Senja?”


“Bukaaaan, pak guru. Kami belajar sungguh sungguh. Memang sebelumnya kami belajar kelompok secara bergantian di rumah Senja. Tapi sumpah pak, kami tidak menyontek” Jono  antusias menjelaskan. Dia memang yang paling rajin ikut belajar kelompok. Meskipun bergantian yang datang diantara tiga puluh siswa lainnya, Jono selalu ikut bergabung disemua kelompok. Misinya satu, dia ingin sekolah di SMP negeri di Kecamatan sebelah, bareng denganku. 


“Ya, Bapak percaya kalian belajar dengan maksimal. Beberapa waktu lalu Bapaknya Senja sempat menemui Bapak di sekolah. Beliau menanyakan kenapa anak-anak kelas enam selalu datang setiap malam ke rumah. Dan Senja seperti ibu guru yang mengajar. Apakah itu ada instruksi dari sekolah? Bapak jelaskan bahwa semua atas keinginan siswa karena menganggap Senja bisa membantu mereka untuk mempersiapkan Ebtanas. Bapak bangga kalian mempunyai inisiatif dan hasilnya tidak mengecewakan. Terima kasih Senja, kamu sudah menjadi pahlawan bagi teman-temanmu” pak Samijo menatap Senja penuh haru. 

 

“Ada manusia purba homo erectus, ada hewan purba seperti gajah, badak, kerbau, buaya” Yadi akhirnya bersuara memecah hening siang yang kian memprihatinkan. 


“Ya, betul. Ada banyak spesies manusia purba misalnya homo erectus, australopithecus afarensis, dan homo sapiens. Yang di Sangiran itu tergolong homo erectus. Cukup. Nanti lebih jelasnya kita bisa melihat disana” pak Samijo menutup siang itu setelah membagikan surat pemberitahuan piknik. 



Lihat selengkapnya