Sangiran, dua juta empat ratus tahun yang lalu adalah dasar laut bagi hunian siput, kerang dan ikan. Akibat adanya energi dari aktivitas gunung Merbabu dan Merapi yang dibawahnya terdapat lempeng bumi pulau Jawa, mengakibatkan terdesak nya Sangiran keatas permukaan. Ketika diatas puncak kubahnya terjadi retakan, kemudian membuka aliran sungai Cemoro dan terlihatlah Sangiran ditengah-tengah.
Kira-kira tiga juta seratus tahun yang lalu, Sangiran berubah menjadi kawasan tandus. Saat itu kerbau, gajah dan badak menjadi penghuni dan hidup secara berkoloni.
Tak berselang lama, sekitar satu juta delapan ratus juta tahun yang lalu, Sangiran pun berganti dari area rawa menjadi daratan.
Ketika itu pada tahun 1926 Jawatan Pertambangan Hindia Belanda, Dienst Van Den Mijbow In Nederlandsch Indie, melakukan survei ke daerah-daerah potensial yang mengandung fosil di Patiayam-lereng gunung Muria- dan Sangiran. Survei kala itu melibatkan Louis Jean Chretien Van Es dan William D. Mattew dari American Museum of Natural History.
Tidak berhenti sampai disitu, pada tahun 1931 dimulailah pemetaan situs Sangiran oleh Louis Jean Chretien Van Es dengan diterbitkannya buku Age of Pithecanthropus. Didalam buku karyanya tersebut kemudian untuk pertama kali terdapat situs Sangiran.
Gustav Heinrich Ralph Von Koeningswald pada tahun 1934 memperoleh jejak manusia purba di Sangiran berupa alat-alat serpih dari batu Kaldeson dan Jasper dan juga fragmen rahang atas bagian kiri.
Dari berbagai temuan benda purbakala tersebut, akhirnya pada tahun 1977 berdasarkan Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, kawasan Sangiran yang mempunyai luas 46,5 kilometer persegi itu ditetapkan sebagai kawasan Cagar Budaya. Dan sejak itu, geliat wisata di kota kecil Sragen mulai menampakkan diri diantara tempat wisata sejarah lainnya yang tak kalah fenomenal seperti keraton Surakarta dan keraton Yogyakarta.
Dan kini, Sangiran sedikit demi sedikit mulai menampakan diri sebagai salah satu icon pariwisata di kabupaten Sragen. Setiap pelajaran Sejarah yang menerangkan tentang manusia purba, Sangiran berubah menjadi tempat yang layak untuk dikunjungi. Sakral, penuh misteri dan tentu saja bayangan manusia tak berbaju, memakan segala rupa tanaman dan hewan yang ada di hutan, menjadi hal yang diingat oleh murid seperti kami. Kenapa kita mempelajari manusia purba? Karena kita manusia yang sebaiknya mengetahui asal usul kita, begitu Teuku Jakob, salah satu penelitian legendaris itu memberikan quote.
Ya, menurut teori Darwin, kita dulunya adalah sebangsa kera yang berevolusi dari masa ke masa. Mulai dari masa Tarsier, Lemuria, Dryopitheus, Rama Pitheus, Ardipitheus Ramidus, Australopitheus Africanus, Homo Habilis, Homo Erectus Neanderthals hingga Homo Sapiens-yang karena kepandaiannya hampir menyerupai manusia saat ini.