Rumah Impian Senja

Kusnawati
Chapter #8

Bab 8

Enam tahun yang penuh suka duka akhinya sudah selesai aku lalui di SD tercintaku, SDN Gringging 2. Yang pasti, aku telah memberikan kebanggaan dan kenangan manis kepada orang tuaku, juga mengukirkan dengan tinta emas untuk semua guru di sekolah. Menjadi juara kelas dari kelas satu, menjadi lulusan terbaik adalah salah satu hal istimewa dimasa kecilku sebelum baligh. 



Bersama empat teman sekelasku-yang rajin belajar kelompok sebelum Ebtanas- kami diterima di SMP 1 negeri favorit di Gondang, tetangga Kecamatan. Jono salah satunya. Meski jarak sekolah dengan rumah cukup memakan waktu-kurang lebih tujuh kilometer- tapi bagi kami yang sedang semangat empat lima, semua bukan halangan yang bisa menyurutkan langkah. Sepeda kayuh menjadi teman setia bersama puluhan anak lain yang sekolahnya searah dengan sekolah kami-, setiap jam enam pagi. Sedangkan tiga temanku yang lainnya-Tono, Yanto dan Yadi sekolah di SMP kecamatan kami. 




Setiap hari pemandangan yang terlihat adalah: di jalan yang kami lalui- ditengah sawah- ketika para orangtua kami sedang sibuk merawat tanaman padi-, anak-anak berseragam sekolah rapi dengan bersepeda berjajar dua baris, melewati jalan seolah menambah adrenalin untuk terus berjuang. Karena jauh diantara pematang sawah itu terlantun doa tak terhingga yang terucap, agar kami selamat dalam perjalanan, rajin mengikuti pelajaran dan terus menjadi kebanggaan keluarga. 




Pada minggu pertama masuk sekolah belum dimulai pelajaran. Kami semua siswa kelas satu wajib mengikuti penataran P4- Pedoman  Penghayatan dan Pengamalan Pancasila. Program resmi Nasional untuk semua siswa baru tingkatan SMP. Materinya seragam yaitu memberikan pengetahuan tentang  Undang- Undang Dasar 1945- UUD 1945- , Ketetapan MPR tentang P4 itu sendiri dan Garis Besar Haluan Negara-GBHN. Diharapkan dengan adanya penataran P4 ini semua lapisan masyarakat- terutama kami pelajar- mampu menghayati, mengamalkan dan menyebarluaskan hak dan kewajiban sebagai warga negara dengan berdasarkan pada Pancasila dan UUD 1945. Dengan adanya panduan tentang pendidikan nilai-nilai  dan pengalaman Pancasila dalam kehidupan bernegara diharapkan agar setiap siswa lebih sedikit melek tentang demokrasi Pancasila dan pada akhirnya mampu membentuk dan menjaga persatuan dan kesatuan Pancasila sebagai dasar negara. Selain itu menjadi siswa yang mempunyai karakter sesuai dengan nilai-nilai Pancasila yang utuh dan menyeluruh. Begitulah kira-kira harapan sekolah, tentu saja harapan dan arahan dari pemerintah pusat juga. 




Dan bagaimana contoh pengamalannya di kehidupan sehari-hari, apa yang bisa kita lakukan sebagai generasi awal remaja dalam mensikapi ke-36 butir Pancasila, diuraikan panjang lebar tiada henti dari hari pertama hingga usai penataran.  Menurut salah satu guru, penataran P4 ini merupakan pengetahuan awalan saja. Nantinya bagi siswa berprestasi dan memenuhi syarat tertentu akan diadakan perlombaan cerdas tangkas  P4 antar siswa. Juara pertama akan dilombakan lagi antar sekolah tingkat kabupaten, provinsi bahkan tingkat nasional. Tentu saja syarat minimal harus hafal UUD 1945 beserta pasal- pasalnya, GBHN, butir-butir Pancasila dan segala turunannya. Katanya ini salah satu lomba bergengsi yang bisa  mengangkat derajat sekolah jika perwakilannya menang. Pemerintah daerah akan memberikan apresiasi istimewa kepada Kepala Sekolah karena telah berhasil mendidik siswanya sebegitu hafal semua hal tentang Pancasila& penerapannya. Dan siswanya sebagai peserta, tentu mendapat aneka rupa hadiah bahkan beasiswa karena keenceran otaknya dengan hafalan layaknya dokter menulis resep ke pasien tanpa contekan hanya dengan melihat gejala yang diderita. 




Dalam waktu seminggu tanpa jeda mendengarkan materi yang disampaikan secara bergantian oleh guru membuat aku bosan. Duduk dari jam tujuh pagi hingga jam setengah dua sedikit membuat nyaliku ciut. Seperti inilah nanti gambaran belajar ditingkat lanjut? Jauh berbeda sekali ketika masih SD dulu. Sebelum dhuhur sudah sampai rumah, terkadang guru ijin dan kelas dipulangkan lebih awal.




“Senja, kamu bawa bekal tidak? Aku lapar” suara lirih Jono yang duduk di kursi belakangku saat jam penataran hari terakhir P4 sedang berlangsung. Dalam seminggu itu para siswa hanya diberi camilan yang cukup untuk mengganjal perut sampai jam  sebelas saja. Jika masih lapar, harus membeli jajan di kantin samping sekolah. Untuk hal ini, ibuku yang aku beritahu betapa laparnya aku setelah camilan berupa jajan pasar habis dan hampir pingsan di hari pertama, esoknya ibuku membawakan bekal. Kebiasaan berhemat yang tak lekang dimakan usia. 

Lihat selengkapnya