“Senja, lekas bangun! Sudah jam berapa ini?” suara ibu sayup terdengar lirih, menerobos dinding papan kayu kamarku. Antara sadar dan ingatan masa lalu setiap pagi ketika usiaku masih SD, aku masih enggan untuk bangun.
Kedua kelopak mata terasa berat untuk terbuka, melihat indahnya pergantian hari ini.
“Senja, katanya sebentar lagi mau ujian, apa nanti tidak ketinggalan pelajaran kalau bolos sekolah?” Sepi. Tak ada suara lagi selain gesekan pelan bunyi sandal jepit yang telah uang alasnya. Bunyinya kian mendekat dan kurasakan berhenti tepat didepan kamarku. Badanku terasa berat, seakan ada puluhan kilo karung beras yang menimpa. Kedua kaki nyaris tidak merespon ketika otakku menyuruh untuk bangun dan berjalan. Aneh, ada apa denganku? Semalam sebelum tidur aku baik-baik saja. Sudah berdoa pula.
Tok… tok… tok…
“Senja, Ibu masuk, ya?” Perlahan suara pintu terbuka, langkah kaki mendekat ke tempat tidurku.
“Kamu sakit, Nduk?” Sejak kapan? Semalam waktu makan itu ibu lihat masih sehat. Apa yang kau rasakan?” tangan ibu menempel ke dahiku, leher dan menyentuh kedua tanganku.
“Tidak panas, tapi kenapa keringat dingin banyak sekali. Bajumu sampai basah.”
Aku masih membisu, lidah terasa kelu, tak mampu mengeluarkan sepatah kata pun. Ingin rasanya mengatakan apa yang aku rasakan. Tapi nihil. Perlahan tanganku memegang baju ibu, memberi isyarat bahwa aku kesulitan berbicara.
“Pak… Pak… Senja kenapa ini?“ nyaring suara ibu memecah keheningan pagi yang masih sepi. Bapak yang biasanya sudah berangkat ke sawah tergopoh-gopoh datang. Mata teduhnya langsung melihatku yang diam telentang dikasur. Kulihat ada kekhawatiran tersirat disana.
“Kamu kenapa, Nduk? Ini Bapak. Kamu akan baik-baik saja. Tenang, ya? Bapak dan Ibumu ada disini” tangan Bapak menggenggam jemariku. Mulutnya komat-komat lirih membaca Al Fatihah. Kamarku terasa hening, beku menghunjam setiap nafasku. Perlahan tetes bening mengalir pelan dari kedua kelopak mataku.
“Pak, kita bawa Senja ke mantri desa saja. Ibu khawatir kenapa-kenapa” suara Ibu semakin panik, tangannya makin erat menggenggam kedua telapak tanganku. Dengan gerakan perlahan, kepalaku menggeleng.
“Kenapa tidak mau, Nduk? Kamu tidak baik-baik saja. Kalau sudah diperiksa pak mantri, Ibu lebih tenang. Mau ya, Nduk?” wajah ibu didekatkan ke wajahku, ada
ketakukan disana. Kembali kugelengkan kepala. Aku merasa baik-baik saja hanya kesulitan berbicara. Aku sehat, hanya… entahlah, sulit menjelaskan apa yang aku rasakan saat ini.
“Bu, temani Senja dulu. Buatkan teh hangat. Bapak akan pergi ke rumah mbah Parjo. Semoga beliau tidak sedang pergi.”