Rumah Impian Senja

Kusnawati
Chapter #11

Bab 11

Lampu kamarku sudah menyala. Entah sudah

berapa lama aku tertidur. Setelah minum air putih pemberian Mbah Parjo tadi pagi, aku seolah tersihir. Kantuk menyerang tak tertahankan. 




“Kamu sudah bangun, Nduk? Makan dulu, ya? Ada semur telur kesukaanmu. Nyenyak sekali tidurmu seharian tadi. Ibu bangunkan untuk makan siang saja sampai tidak bergerak sedikitpun,” Ibuku duduk disamping tempat tidur, tangannya memegang piring nasi.  Aku sudah mulai bisa menggerakkan tubuhku meskipun belum seluruhnya. Setidaknya tidak ada lagi rasa berat yang mengganggu kemarin kemarin. 




“Buuuu… akuuu…” 




“Gusti, kamu sudah bisa bicara lagi, Nduk? Syukurlah” Ibu memelukku erat, menciumi kedua pipiku.


“Jangan dipaksakan bicara dulu Nduk kalau kamu belum sepenuhnya pulih. Pelan-pelan saja.”




Perlahan pintu terbuka. Bapak  masuk diiringi Jono, Yadi, Yanto dan Tono. Raut muka sedih tergambar jelas dari wajah teman kecilku itu. 



“Senja, tadi bu Sum, guru Matematika menanyakanmu. Tumben ijin tidak ada suratnya. Aku juga baru tahu setelah pulang sekolah. Lekas sehat, ya?” Jono mendekat, duduk disamping Ibu. 




“Iya Senja, maaf kalau kami baru bisa kesini malam-malam begini. Tadi kalau Bapaknya Jono tidak cerita, kami semua pasti juga tidak tahu. Sekarang bagaimana kondisimu?” Yadi akhirnya ikut bicara. 




‘Iya, Senja. Kamu pasti pulih lagi. Oh ya, kalau sudah sembuh, kita pergi bareng, yuk! Setelah SMP sepertinya kita jarang sekali berkumpul. Tidak mandi di sungai kok” Tono menimpali. Matanya melihat ke Bapak sekilas, takut ajakannya yang melibatkan sungai, menjadi masalah baru. Tempat yang tidak disukai Bapak ketika aku bermain dengan mereka berempat. 




“Akuuuu… akuu… “




“Sudah Nduk, tidak apa-apa, tidak usah dipaksa bicara. Mereka hanya ingin memberi semangat kepadamu agar lekas sembuh.” Bapak duduk di sisi tempat tidur lainnya. Meski terlihat tenang tetapi aku merasa ada yang disembunyikan dariku. 



“Pak, sebaiknya besok pagi memanggil Mbah Parjo lagi. Senja belum bisa berbicara normal, badannya juga terlihat lemas. Tadi ibu melihat Senja sering melamun, menatap kosong keluar jendela. Kalau benar Senja ada yang mengikuti, secepatnya harus diruwat




“Iya, Bu. Malam ini Bapak ke rumah Mbah Parjo lagi. Airnya tinggal satu kali minum ya, Bu?”



“Iya, Pak. Sepertinya gangguan yang menimpa anak kita cukup kuat.”


****


“Bagaimana Mbah, apa Senja anak saya bisa sembuh dengan cepat?” 




“Kerto, pengirimnya bukan orang sembarangan. Bukan dari daerah sini. Jauh sana, berpuluh kilo meter jaraknya. Apa kamu selama ini pernah bertengkar dengan seseorang?”



“Seingat saya tidak, Mbah. Bertengkar hebat sampai berkelahi kan maksud Mbah Parjo? Kalau berselisih paham, iya, pernah sekali. Tapi itu sudah lama. Waktu Senja masih SD.”



“Apakah setelah itu orangnya tetap berlaku baik kepadamu dan keluargamu?”


Lihat selengkapnya