Di sebuah rumah kayu sederhana yang kecil, yang sebagian dinding belakangnya terbuat dari anyaman bambu, nampak berserak segala rupa peralatan pertanian di teras depan-cangkul, arit, linggis dan caping. Pelataran yang cukup luas ditumbuhi rumput liar. Disamping kanan ditanami pohon jagung yang mulai menampakkan bonggol kecil ditengah batangnya. Sementara disebelah kiri ada rimbun tembakau siap dipetik. Rumah limasan yang agak terpisah dari rumah-•rumah penduduk yang lain, berdiri dengan angkuh seolah segala rupa kesialan lenyap seiring masuknya orang dalam pusaran gaib penghuninya.
Mbah Parjo memperhatikan dengan mimik kaku, rahang mengeras dan sorot mata penuh daya magis pada sebuah benda terbungkus kafan didepannya. Rumah kecil yang nyaris tidak berjendala itu menguatkan asap kemenyan yang menyengat yang menguar memenuhi ruangan. Dengan penuh hati-hati tangannya membuka bungkusan yang diletakkan didepannya.
“Anakmu cukup kuat. Ada energi tidak kasat mata yang melindunginya. Kalau anak lain mungkin sudah terganggu jiwanya. Dan biasanya sulit untuk sembuh bahkan bisa saja nyawa taruhannya. Apa dia sering melakukan sesuatu yang tidak biasa, misalnya puasa?” tanya Mbah Parjo ketika pak Kerto menyerahkan bungkusan berisi paku dan silet.
“Anak saya tidak pernah puasa selain pada bulan Ramadhan. Tapi kalau salatnya tidak pernah terlewat. Bahkan kalau pagi sebelum subuh dia sudah bangun, salat dan membaca Al Qu'ran.”
“Bisa jadi itulah yang menolongnya dari pengaruh jahat kiriman benda ini. Kamu dan istrimu sebagai orang tua harus melakukan tirakat untuk kesembuhan dan penjagaan bagi anakmu. Puasa mutih- puasa hanya mengkonsumsi nasi dan air putih. Kerjakan itu sampai anakmu benar-benar sembuh.”
“Baik, Mbah. Saya akan lakukan apapun syarat yang diberikan demi kesembuhan anak saya.”
“Barang ini mau Mbah kirimkan balik ke pemiliknya atau bagaimana?”
“Hancurkan saja, Mbah. Tidak perlu dikirim balik. Saya tidak mau menjadikan dendam sebagai senjata untuk melukai orang lain. Biarlah Gusti Alloh yang menyelesaikannya.”
***
Aku terbangun diantara harumnya tanah basah dari balik jendela kamar. Seperti terlelap sekian lama. Perlahan aku mendekati jendela, menghirup udara yang seakan lama tidak masuk dalam rongga paru-paru. Memandang jauh ke pekarangan yang masih menyisakan air diatasnya. Seakan ada yang berbeda siang ini.