Rumah Impian Senja

Kusnawati
Chapter #13

Bab 13

Gemerlap kota dan riuhnya aktivitas manusia sejak pagi hingga malam, menjadikan aku sedikit tergagap ketika menapaki kehidupan sebagai warga baru di kota Kabupaten. Rumah-rumah mewah lebih sering aku jumpai- tembok bata, bertingkat dan mobil terparkir manis disebagian rumah mewah itu.  Jalan-jalan mulus beraspal hingga ke gang-gang perumahan. Di pinggirnya tumbuh pohon-pohon rindang, membuat nyaman mata memandang. Teduh dan  damai. Lalu lalang kendaraan menghias disetiap sudut kota tiada henti. Ramai tapi teratur. 



Penduduknya tidak ada yang  bertani. Hampir semuanya pegawai baik di kantor pemerintah maupun karyawan swasta. Penampilan rapi, bersih dan terawat. Begitu juga para ibu, meskipun hanya dirumah mengurus keluarga, penampilan priyayi sangat kental terlihat. Logat bicara yang lembut, efisien, seperlunya saja jika tidak ada hal penting yang dibahas. Nonggo- ngobrol santai di sore hari dengan tetangga usai beberes rumah- tak pernah aku jumpai layaknya ibu-ibu di kampungku. Semua berdiam di rumah. Mungkin hanya sesekali berbincang saat kerja bakti membersihkan pekarangan, jalan perumahan, menjelang tujuh belasan. Atau saat tarawih di bulan Ramadhan. Profesi pedagang juga banyak aku jumpai.  Aneka toko dengan berbagai jenis usaha berjajar di sepanjang jalan Sukowati, jalan utama Kabupaten. Ada juga yang berdagang di pasar kota. Pasar utama yang jadi rujukan kulakan para pedagang pasar kecamatan. Harga lebih murah, jumlah melimpah dan tentu saja kualitas terbaik. 




Untuk sarana transportasi, banyak angkutan kota -angkot- yang beroperasi di tengah kota hingga ke daerah pinggiran. Mobil kecil berwarna biru putih mendominasi jalanan ketika anak sekolah berangkat dan pulang. Berjubel sampai penuh keluar pintu.  Angkutan primadona penduduk kota  seolah menisbikan bahwa setiap warganya tidak perlu khawatir ketika bepergian. Angkutan siap mengantar sampai ke tujuan, dari pagi menjelang maghrib datang. Mulai dari rute sekolah, pasar hingga ke terminal dan stasiun akan siap sedia. Sangat kontras dengan kehidupan di kampungku. Sejauh mata memandang hanyalah hamparan sawah. Jalan-jalan belum sepenuhnya beraspal.  Seolah hanya jalan utama kecamatan yang layak diperhatikan ketika ada inspeksi dadakan dari pejabat pusat. Misal pun ada yang sudah beraspal, tidak lama kemudian semua hancur berlubang akibat lalu lintas truk pengangkut gabah hasil panen yang dibawa tengkulak ke kota. Tidak ada mobil angkutan seperti di kota. Kalau kita ingin menggunakan fasilitas umum- bis- harus bersepeda  atau jalan kaki menuju jalan raya utama yang jaraknya lebih dari lima kilo meter. Maka para penduduk kampung pun harus puas menikmati sisa-sisa kemajuan kota dan budget anggaran yang terbatas. 




Sudah lebih dari sebulan aku menikmati segala perubahan dalam hidupku sejak memutuskan meninggalkan kampungku demi sebuah cita-cita luhur Bapak. Sekolah di SMA 1 dan kos. Ya, aku tinggal disebuah keluarga yang sangat harmonis. Rumah dimana begitu banyak cinta dan impian anak terwujud tanpa kendala. Rumah mewah dan besar, tentu saja ada mobil terparkir di halaman depan. Bapak Sadewo, kepala keluarga nan bersahaja bekerja di sebuah kantor departemen pemerintah. Irit bicara tapi sangat berwibawa. Sedangkan sang istri, yang akrab dipanggil bu Sadewo, berhikmad sepenuh hati melayani kebutuhan keluarga dengan penuh kasih sayang. Ketiga anaknya semua laki-laki. Mereka telah merasakan bagaimana fasilitas dan finansial orangtua yang cukup, mampu mengantarkan mereka pada posisi ternyaman nya saat ini di dunia pendidikan. 




Anak pertama, Mas Ardian. Seorang mahasiswa perguruan tinggi negeri ternama Semarang, Undip. Dari jurusan yang diambil-teknik sipil- membuat kita langsung mencerna lebih cepat bahwa otak encernya bukan kaleng-kaleng. Pendiam, tak banyak kata terucap. Sifat yang menurun dari Bapaknya. Yang kedua, mas Arman. Tak kalah jenius dari kakaknya. Teknik elektro Institut Teknologi Bandung menjadi bukti bahwa kecepatan bicaranya berbanding lurus dengan kecepatan otaknya menjawab soal tersulit saat ujian penerimaan mahasiswa baru. 

Dan yang membuatku bangga, mereka berdua alumni sekolahku, SMA 1.  Bayang-bayang kesuksesan seperti mereka selalu menari-nari dalam benakku. Terutama jaminan masuk perguruan tinggi bergengsi kalau lulus nanti. 




“Kalau alumni sekolah kita banyak yang keterima di pergurusn tinggi negeri, dik. Dan mereka hampir semua mengambil jurusan favorit- teknik, kedokteran, ekonomi. Makanya kalau kamu belajar dengan tekun, mas jamin pasti keterima dimanapun universitas yang kamu pilih. Mas saja bisa lolos ITB padahal tidak ikut les atau bimbingan belajar jelang UMPTN-Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri. Guru-guru disini juga hebat semua” jelas mas Arman ketika berbincang denganku saat liburan semester. Dia memang yang sering banyak ngobrol kalau pulang libur semester. Kadang saat  bersama di dapur ketika membantu ibu memasak, kadang saat nonton televisi diruang keluarga. Meski semua anaknya laki-laki, bu Sadewo mengajarkan kepada mereka pekerjaan rumah- menyapu, mengepel, mencuci baju, menyetrika dan memasak. Kedua anaknya yang besar selalu patuh dan riang hati melakukan semua pekerjaan itu. Bu Sadewo lebih banyak duduk sambil menyuruh ini itu kalau mereka berdua pulang liburan. 




“Oh begitu, Mas. Berarti pintar semua ya siswa SMA kita?”

Lihat selengkapnya