Rumah Impian Senja

Kusnawati
Chapter #14

Bab 14

Menjadi murid sekolah terbaik itu memang tidak mudah. Anak-anak berprestasi dari penjuru sekolah berkumpul menjadi satu dan tentu saja semua berambisi untuk menjadi juara. Berbagai latar belakang keluarga, ras dan keyakinan mewarnai sekolah kami. Cermin dari sila ketiga Pancasila tentunya. Ada yang  orangtuanya polisi, pejabat negara, pegawai pemerintah, pedagang, pendeta dan tentu saja aku, satu-satunya anak petani kampung di kelasku. Bersyukur sekali mereka semua baik, tidak membedakan antar teman, darimana berasal, apa agama yang dianut. Pun soal keyakinan. Sejak SD, yang aku tahu agama teman sekelas itu seragam, Islam. Tetapi ketika SMA, semua pemeluk keyakinan ada. 




Pradnyani beragama Hindu, pindahan dari Bali. Keluarganya belum lama menetap di kota Kabupaten. Diah, pemeluk agama Budha. Rumahnya tidak jauh dari sekolah. Menurutnya, mencari teman sebaya yang beragama Budha di kota seluas ini ibarat mencari jarum ditumpukkan jerami. Ada juga Maria dan Nathalia, mereka teman sebangku pemeluk Kristen protestan. Ayah Nathalia seorang pendeta, keluarga keturunan berwajah oriental yang ditugaskan di gereja besar, di pusat kota. Aku dan beberapa teman pernah diajak ke rumahnya, yang berada di samping gereja. Ayah dan ibunya sangat baik, menyediakan aneka camilan untuk teman belajar. Mereka meminta kami belajar di dalam Gereja karena sempitnya rumah mereka untuk menampung kami bertujuh. Itulah pertama kali aku menginjakkan kaki di dalam gereja. Saat itu kami ada tugas kelompok. Terakhir Helena, penganut Katolik taat. Keluarga pribumi, Jawa asli. Sisanya Muslim sebagai mayoritas di Indonesia. 




Yang lebih membuatku terpukau, penampilan teman- teman sekolahku tak kalah keren dan modern layaknya penampilan artis ibukota. Itu aku ketahui saat les. Barbaju modis dan memakai aksesoris terkini untuk yang perempuan. Bahkan ketika aku diundang merayakan sweet seventeen Helena, mereka seolah mau menghadiri jamuan pesta di hotel berbintang. Baju yang terlihat mewah dan mahal, kontras sekali ketika memakai seragam sekolah. 




Meski terseok-seok aku mengejar prestasi teman-temanku, ternyata apa yang menjadi kebiasaan dan kebangganku sejak SD hingga SMP tidak mudah diraih. Aku tidak masuk dalam peringkat tiga besar di kelas saat penerimaan raport semester pertama. Tetapi masih cukup beruntung karena berada diantara lima anak pertama yang meraih posisi cerdas nan tekun. Itu pun harus melewati perjuangan yang tidak mudah. Aku harus ikut les di lembaga pendidikan dan juga les privat pada salah satu guruku untuk mata pelajaran baru, Kimia. Pelajaran yang awalnya rumit dan membuatku malas untuk pergi sekolah. Tetapi demi mengingat peluh Bapak di sawah, impian Bapak agar aku menjadi orang sukses, kesulitan dan kemalasan itu berhasil aku lawan.  



Seperti teman-teman sekolahku, hampir semua anak mengikuti tambahan belajar diluar jam sekolah. Entah privat atau mendaftar di lembaga pendidikan. Prestasi raport bagi kami adalah tonggak awal untuk meraih mimpi di kelulusan nanti. Dan aku ikut terpacu dengan keadaan seperti itu. Setidaknya, berkumpul di sekolah yang mayoritas anaknya berotak diatas rata-rata menjadikan kita bersemangat. Setiap hari waktu seakan dihabiskan hanya untuk belajar. Berbeda sekali ketika aku sekolah di kampung dulu.  Jam kosong selalu ditunggu. Tentu saja bermain menjadi momen paling membahagiakan. Bahkan doa-doa dipanjatkan agar setiap hari minimal ada satu jam kosong pelajaran. Bagi anak kampung, belajar hanya menghabiskan waktu saja. Tak ada gunanya. 



“Besok pulang sekolah aku ke rumahmu, ya? Aku belum begitu jelas soal yang tadi. Nanti aku ajak yang lain juga” kalimat yang sering aku dengar usai pulang sekolah. Bagi anak anak pintar lagi cerdas seperti mereka, mengerti sampai detail setiap ilmu yang diberikan guru itu hukumnya wajib. Bahkan mempelajari materi sebelum diajarkan itu layaknya gaya hidup. Semakin cerdas, semakin rajin, semua mata akan memandang kagum. Tak peduli agama, apalagi kedudukan orangtua. Nilai ibarat tahta tertinggi bagi kami anak-anak berseragam putih abu-abu. 




“Besok mau ada ulangan. Kita minta tambahan waktu pada tutor di tempat les untuk memecahkan soal-soal. Sekali waktu pengajarnya tidak usah memakai kurikulum lembaga. Kita kasih kurikulum sendiri. Mereka lulusan PTN ternama, pastilah sudah hafal diluar kepala soal-sial seperti ini.” Begitulah rutinitas anak-anak yang les seminggu tiga kali sebelum berangkat. Entah spa yang dilahapnya setiap hari, bisa-bisanya sesuka hati mau mengganti kurikulum lembaga. Mungkin nanti kalau sudah jadi menteri, kurikulum yang tidak sesuai mereka ganti juga sesuka perasaan dan pikirannya. 




Tapi jangan salah, jika libur sekolah mereka juga akan maksimal dalam bermain. Mungkin menjadi pelampiasan selama belajar yang seolah tiada henti. Aku yang ikut dalam komunitas itu, para pelajar cerdas lagi tekun, sangat mendambakan libur akhir pekan. Seperti para pekerjaan yang menunggu waktu tidur seharian setelah lelah duduk dari jam delapan hingga jam empat sore di kantor. Biasanya kami akan bergantian tempat sebagai titik berkumpul. Meskipun agendanya bermain, tetap saja ketika bertemu, jadwal membaca masih menjadi agenda utama. Meskipun yang dibaca menjadi salah satu potret sisi lain anak remaja, membaca majalah hiburan- Anita Cemerlang, Aneka Yess dan Gadis. Yang sedikit agak menghibur, kami akan saling bertukar kaset lagu kesukaan masing-masing. Ada grup java jive, kahitna, atau album penyanyi solo seperti Yana Julio, Katon Bagaskara, Heidi Yunus. Nanti setelah bosan mendebgarkan, kami kembali membuat kesepakatan kapan bertemu sambil membawa majalah dan koleksi kaset baru tentunya. 




Lihat selengkapnya