Waktu seakan berhenti berputar, lambat dan penuh ketidakpastian. Suara angin berdesir ringan, menggoyang pucuk-pucuk daun diluar rumah. Beberapa cicak nampak merambat perlahan di dinding papan, mencoba mencari peluang makanan yang masih mungkin tersisa.
“Mba Senja kalau luang, ada kegiatan apa?” paman Ayu memecah keheningan yang sedikit menegangkan bagiku. Ayu belum juga muncul, berbagai macam lintasan pikiran muncul. Jangan… jangan…
“Itu Paman, eh… ada. Ituuu…Eh, saya ikut les di lembaga pendidikan dan privat ke guru sekolah” kegugupan tak ayal menyelimutiku. Tangan semakin terasa seperti es, titik-titik air makin banyak membasahi baju belakangku. Aku tak berani menatap paman Ayu atau laki-laki disampingnya. Kata Bapak, seorang perempuan tidak pantas dan tidak sopan berbicara sambil menatap lama laki-laki asing. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi Bapak kalau tahu aku berada dalam satu ruangan dengan laki-laki yang baru beberapa menit dikenal. Tuhan, tolong ampuni aku. Jangan sampai Engkau murka karena tindakanku ini. Batinku berontak tak menentu.
“Perempuan itu harus bisa menjaga diri. Tidak boleh berbincang akrab dan mudah bercampur baur dengan laki-laki yang bukan termasuk saudara. Apalagi yang baru dikenal. Saat kamu kos nanti, Ibumu terutama Bapak tidak bisa setiap saat mendampingi. Tetap ingat batasan diri” nasehat Bapak kala melepasku dihari pertama berangkat untuk kos di kota.
“Sibuk sekali berarti, ya?” Paman Ayu kembali meneruskan obrolannya. Sesekali dia melihat laki-laki disampingnya.
“Iya, cukup sibuk.”
“Kalau hari libur Minggu bisa keluar berarti waktunya cukup longgar?”
Ah, kenapa Ayu tidak keluar, ya? Aku semakin tidak nyaman sendirian disini.
“Kalau pas tidak pulang kampung ya luang.”
“Misal begini, mba Senja kalau luang seperti ini, nanti mau tidak suatu saat kesini lagi? Kita banyak program untuk anak seusia mba Senja seperti ini.”
“Program apa ya, Paman?” Radar waspadaku langsung tegak. Ada apa ini?
“Biasa kok, Mba. Saya dulu awalnya juga bingung, takut. Tapi setelah satu kali datang ikut pertemuan, selanjutnya malah ketagihan ingin ikut terus” lelaki disamping paman Ayu tiba-tiba menyahut. Matanya tidak lepas dari anyaman bambu yang dibuatnya.
“Oh iya, kenalkan ini namanya mas Doni. Dari luar kota juga seperti mba Senja. Dia sekolah di STM- Sekolah Teknik Mesin. Baru kelas dua. Program yang paman maksud itu pengenalan dasar tentang Alloh, kenapa kita harus taat kepadaNya. Seperti pengajian tapi hanya dihadiri beberapa orang saja. Biar lebih fokus belajarnya. Seperti kata mas Doni, mba Senja datang saja dulu. Kalau nanti merasa tidak cocok, ya sudah, tidak usah dilanjutkan. Tidak memaksa kok.”