Rumah Impian Senja

Kusnawati
Chapter #16

Bab 16

Aku semakin sibuk dengan berbagai kegiatan. Les, ekstrakurikuler basket dan satu lagi, pengisi tetap mading sekolah. Hobby baru setelah sering berkumpul dengan teman-teman penggemar majalah remaja. Selain itu, setiap hari selalu saja ada PR, ulangan, kerja kelompok. Waktu benar-benar tidak bisa diajak kompromi. Di Sekolah bersama teman membahas pelajaran, les di lembaga pendidikan juga memecahkan soal-soal. Belum yang privat. Tetapi meskipun begitu aku begitu menikmati semua prosesnya. Proses mengejar cita-cita untuk sukses sesuai harapan  Bapak. 




Ayu, yang tidak ikut kegiatan apapun, tidak les dimanapun, semakin jauh dari kehidupanku dan aku bersyukur untuk itu. Setidaknya tidak ada yang mengejar-ngejar untuk ikut pengajian.  Tetapi suatu sore, setelah aku pulang dari les, kakak Ayu sudah berbincang dengan bu Sadewo di teras. Aku mengulas senyum ketika melewati pintu pagar. 




“Mba Senja, kesini dulu. Bu Marti ingin ngobrol sebentar” Bu Sadewo memanggilku ketika hampir mendekati tempat duduk mereka. Ada apa bu Marti ingin bicara. Apakah ada yang penting?




“Maaf mba Senja, kalau tidak salah, dulu sering ya main ke rumah bareng Ayu. Sekarang sepertinya jarang kelihatan” Bu Marti bertanya dengan hati-hati ketika aku sudah duduk di depannya, disamping bu Sadewo. 




“Iya, Bu. Waktu kelas satu saya memang cukup dekat dengan Ayu. Mulai kelas dua saya sudah tidak begitu dekat. Saya banyak kegiatan. Les di dua tempat, ekstrakurikuler  basket dan salah satu penanggung jawab mading.”




“Oh begitu, ya? Padahal sampai sekarang kalau Ayu keluar itu bilangnya ke rumah mba Senja, lho. Terakhir tadi pagi, katanya mau belajar kelompok bareng teman-temannya disini. Karena sampai sore tidak pulang, ibu menyusul. Kata bu Sadewo, kamu sejak pagi ke sekolah latihan basket sampai menjelang dhuhur. Setelah itu pergi les. Tidak ada yang belajar kelompok disini sejak pagi” ujar bu Marti sambil menyeka air matanya. Pundaknya terguncang perlahan, seperti menahan beban yang begitu dalam. Aku menahan nafas, tidak percaya kalau Ayu pergi sejak pagi dan belum ada kabarnya hingga sore ini. Dan yang lebih mengagetkan lagi, selama ini dia menjadikan alasan pergi ke tempat kosku untuk meminta ijin keluar rumah kepada kakaknya. 



“Saya kurang tahu, Bu. Di sekolah juga jarang berkumpul bersama. Ayu seperti tidak mau bergaul dengan teman-teman yang lain. Lebih tertutup dan menyendiri.”




“Apa mba Senja tahu siapa teman yang  biasa Ayu ajak ngobrol atau mba Senja pernah diajak kemana begitu sama Ayu?”



“Setahu saya, tidak ada, Bu. Tidak ada yang dekat dengan Ayu di sekolah. Kalau diajak pergi, saya dulu pernah ke daerah Kauman bersama. Tapi bukan rumah temannya. Itu rumah pamannya.”




“Rumah pamannya? Ayu tidak punya paman disini, Mba. Hanya saya keluarga dekat satu-satunya. Namanya siapa? Masih hafal rumahnya tidak? Bisa tidak mba Senja mengantarkan ibu ke sana?” berondongan pertanyaan dari bu Marti membuat dadaku sesak. Yang dulu dikenalkan itu bukan pamannya? Terus siapa? Kok Ayu seperti sudah sangat dekat dan familiar dengan mereka. Bahkan dengan mas Doni. Sepertinya dia juga terbiasa keluar masuk rumah itu. 




“Apa, bukan pamannya? Tapi Ayu bilang dia sering kesana sejak sekolah di SMA. Sudah seperti rumahnya sendiri. Dan setiap hari Minggu pasti di rumah itu. Aduh, kalau nama pamannya, saya juga kurang paham, bu. Waktu itu hanya dikenalkan kalau itu pamannya. Saya juga tidak menaruh curiga apa-apa.  Saya mulai  menjauh dari Ayu sejak diminta ikut pengajian disana. Saya tidak mau. Kalau mau pergi kesana naik angkot, saya sedikit hafal rumahnya. Boleh bu kalau mau diantarkan kesana. Besok pagi libur, saya bisa menemani.”




“Ikut pengajian? Ayu tidak pernah ijin datang ke pengajian kakau hari Minggu pagi. Ibu percaya saja apa omongannya. Apalagi kalau menyebut nama mba Senja, ibu tidak khawatir. Pantas saja kalau setiap Minggu pagi Ayu selalu keluar tapi ijinnya kesini, mba Senja. Jangan nunggu sampai besok, mba. Antarkan sekarang saja. Ibu khawatir terjadi sesuatu dengan Ayu.”


Lihat selengkapnya