Rumah Impian Senja

Kusnawati
Chapter #17

Bab 17

Sudah hampir seminggu sejak Ayu menghilang tanpa jejak, bu Mirta setiap sore datang kerumah. Menanyakan barangkali Ayu ke kosku, menginap atau takut pulang. Sejak itu pula hari-hariku terasa begitu berat.  Karena di sekolah aku juga sedang mempersiapkan ujian untuk penjurusan kelas tiga. Masuk ke kelas jurusan IPA, IPS atau Bahasa. Ternyata jurusan yang terakhir tidak dibuka di sekolahku mengingat fasilitas laboratorium bahasa belum lengkap. Dan hanya ada tenaga pendidik satu orang untuk bahasa Inggris. Padahal di kelas bahasa ada beberapa mata pelajaran yang harus dipelajari selain bahasa Inggris. 




Les di lembaga pendidikan yang kian padat jadwalnya, les tambahan privat yang aku ambil selain Kimia, akhirnya bisa mengantarkanku ke kelas jurusan IPA saat pengumuman disampaikan. Satu langkah menuju ke gerbang impian, Psikologi UGM. Semakin aku membaca referensi tentang ilmu psikologi semakin aku jatuh cinta. Kalau dulu niat masuk ke jurusan cukup bergengsi itu lebih karena euforia seorang fans kepada artis ibukota, seiring berjalannya waktu kini sudah menemukan jalan yang semestinya. Aku sudah dengan sadar memilih jurusan itu tidak karena ingin jadi penyanyi terkenal. 




Hingga pada suatu hari, setelah pelajaran olahraga, aku dipanggil ke ruang Bimbingan Konseling-BK. Tumben sekali aku diminta datang. Sepertinya aku tidak tersangkut kasus bolos sekolah, membawa senjata tajam atau kenakalan remaja lainnya. Dengan kecamuk masih dipikiran, aku melangkah menuju ruang BK. Dan jantungku serasa berhenti berdetak ketika melewati pintu, melihat siapa yang sudah duduk disana. Ada Bapak, bu Sadewo, satu polisi wanita dan dua polisi laki-laki. 




“Bapak, kok ada disini? Ada apa, Pak? Apa ibu sakit?” rasa panik dan khawatir menjalar ke seluruh tubuhku. Aku mendekat ke arah Bapak, menatapnya dengan raut muka penuh tanda tanya, kemudian beralih ke bu Sadewo yang cukup tegang duduk disebelahnya. Sementara Bapak masih seperti dulu, tanpa ekspresi, diam, tetapi tangannya mengelus pundakku dengan lembut seah mencoba menenangkan. 




“Maaf Senja, ibu memanggilmu tiba-tiba ke ruang BK. Ada yang ingin ditanyakan oleh pihak kepolisian kepada Senja” bu Indri menjawab sambil lurus menatapku penuh rasa kasihan, sedih bercampur menjadi satu. Sementara Bapak makin kuat merangkulku. Bu Sadewo yang duduk disebelahku menggenggam erat tanganku. Aku semakin bingung, apa yang sebenarnya terjadi. 





“Polisi? Ada apa ya, Bu? Apa kesalahan saya?”




“Tidak ada yang salah dengan mba Senja. Tenang ya mba, ibu percaya kepada mba Senja. Mba Senja anak baik” bu Sadewo angkat bicara. Aku semakin tidak mengerti, apa yang sebenarnya terjadi?




“Mba Senja kenal baik dengan saudara Ayu Pratiwi?” akhirnya salah satu polisi wanita itu bersuara, membuat jantungku seakan berhenti. Ingatanku refleks tertuju pada Ayu yang hilang beberapa waktu lalu.





Lihat selengkapnya