Rumah Impian Senja

Kusnawati
Chapter #18

Bab 18

Kematian Ayu yang mendadak masih menyisakan trauma yang mendalam bagiku. Berurusan dengan polisi dengan aneka pertanyaan yang membuatku pusing. Awalnya takut kalau aku sampai dinyatakan terlibat padahal memang dari awal aku hanya sebatas saksi. Pusing karena aku tidak tahu apa-apa. Aku juga korban. Hanya saja tidak separah Ayu yang harus kehilangan nyawa. Aku lebih cepat waspada diawal pertemuan terhadap sesuatu yang ganjil dan tidak masuk akal. 





Memasuki kelas tiga jurusan  IPA, waktuku benar-benar terkuras habis. Aku mulai membatasi kegiatan yang tidak berhubungan langsung dengan impian menembus jalur PTN. Basket, mading aku lepas untuk lebih fokus pada pelajaran sekolah. Dan perlahan aku mulai bisa melupakan trauma kematian Ayu. Hingga suatu hari, rombongan pemuda pemudi berseragam coklat dengan tanda kehormatan di bahu kanan kirinya layaknya prajurit, berbadan tegap, berambut cepak, masuk ke kelasku. Ternyata ada beberapa rombongan yang dibagi untuk tiap kelas. Senyum ramah mereka bertiga menyapa kami ketika mereka memperkenalkan diri. 




*Selamat pagi adik-adik semua. Perkenalkan kami dari mahasiswa STPDN yang beralamat di Tangerang. Maksud dan kedatangan kami kesini ingin memberikan gambaran seperti apa sekolah di STPDN, bagaimana cara bisa masuk ke sana, serta kehidupan disana. Nama saya aya, Rendra Pratama, teman saya Irwan Setyawan dan yang terakhir Ratna Puspita” suara salah satu dari mereka membuka pembicaraan dengan tegas.


”Sebelum saya lanjutkan, ada yang tahu apa itu STPDN?” Semua hening, saling berpandangan dan kembali fokus ke tiga mahasiswa di depan kelas. Aku yang duduk di bangku tengah berpikir keras, apa ya STPDN itu? Baru sekali ini mendengarnya. 





“Ada yang tahu? Yang bisa menjawab nanti saya beri hadiah dari STPDN. Gantungan kunci” sambil memperlihatkan sebuah kantungan kunci berwarna krem keemasan, mahasiswa yang bernama  Rendra melihat sekeliling kelas. 




“Baiklah kalau tidak ada, saya jelaskan kelanjutannya. STPDN itu singkatan dari Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri, yang merupakan sekolah kedinasan di bawah Departemen Dalam Negeri. Lama pendidikannya  4 tahun dan setelah lulus nanti akan langsung diangkat menjadi pegawai negeri sipil alias abdi negara. Oh,ya. Untuk pendaftaran dan selama kuliah tidak dipungut biaya sepeserpun” jelas Rendra. Aku langsung terkesiap begitu mendengar ada sekolah kedinasan gratis dan lulusannya dijamin langsung menjadi PNS. Wah, menarik sekali. Kenapa selama ini aku buta ya tentang informasi ini? 




“Maaf, Kak. Mau bertanya. Kalau sekolahnya gratis, nanti disana kita kos sendiri apa disediakan asrama”? aku yang penasaran langsung tunjuk tangan sebelum sesi tanya jawab dibuka. 




“Kita disediakan asrama. Jadi benar-benar tidak keluar biaya sedikitpun” jawab Ratna, sang mahasiswi perempuan. Seperti sekarang kita melakukan kunjungan ke sekolah-sekolah untuk memperkenalkan STPDN pada siswa kelas 3 ini. Semua biaya transportasi ditanggung STPDN. 




Lihat selengkapnya